D'Cat Queen

Because Travelling is not just a passion, it is a life need!

MENU

Agu 2017

27

KILAS BALIK TSUNAMI, MELALUI MUSEUM TSUNAMI ACEH

museum tsunami aceh

Juni 2002

 

“Papa ga mau tau,  kamu harus pindah ke Penang,  kuliah di sana! Lupain kuliah yang di Banda ini. Kamu ga bakal rugi  keluar dari sana!” 

 

Kata-kata itu terucap  15 tahun lalu, dan sempet membuat hubungan ku dengan papa, memanas. Bahkan,  sebagai tanda protes,  aku melakukan aksi ‘ga pernah mau balik ke rumah’  tiap kali liburan kuliah.  Padahal, sejauh apa sih Penang – Medan itu? Hanya 30 menit ditempuh dengan pesawat.

 

Siapa yang ga marah, dipaksa mengulang kuliah dari awal, padahal kuliah sebelumnya sudah berjalan 3 semester. Harus adaptasi lagi di negara orang, berkenalan lagi dengan mahasiswa-mahasiswa asing lain. Bukan hal yang gampang untuk seorang introvert sepertiku.

Tapi… Kejadian  26 Desember 2004 yang lalu, jadi penentu yang  mengakhiri perang dingin di antara kita berdua .

 

Pagi sekitar pukul 9 waktu Malaysia,  aku juga merasakan sedikit guncangan gempa,  ga keras tapi terasa dan bikin pusing.  Jadwal kuliah yang masih sore hari,  membuatku ga terlalu mengacuhkan gempa kecil barusan,  dan melanjutkan beres-beres kamar.  Barulah siangnya,  sesampai di kampus, semua orang heboh dengan berita-berita di TV dan semua media Malaysia,  tsunami besar menyapu habis Aceh dan beberapa negara tetangga.

 

Panik,  pasti.  Keluargaku masih di sana.  Walopun bukan di Banda Aceh. Dan bersyukur karena Lhokseumawe, ternyata aman dan tidak terkena dampak. Tapi salah seorang teman mengabarkan,  rumah yang aku tinggali saat kuliah di Banda Aceh dulu,  hancur dan mayoritas penduduknya,  hilang bahkan meninggal 🙁 . Kebayang,  seandainya 2 tahun lalu aku menolak untuk pindah ke Penang,  melawan kata-kata papa,  apa aku bakal ikut menjadi korban?

 

15 tahun kemudian…

 

Agustus 2017, lama setelah tsunami menyapu Aceh,  di sinilah aku. Melihat wajah Banda Aceh yang baru.  Terus terang, semuanya beda dengan yang trakhir aku ingat dulu.  Jauh lebih bagus,  lebih rapi,  tapi tetep dengan cuaca yang super duper panas 🙂 . Pembangunan di mana-mana, orang-orangnya masih seramah dulu.  Staff hotel yang kutanya tentang tsunami,  masih menangis saat bercerita tentang mamanya yang hilang sampai sekarang.

 

“1 tahun setelahnya Kak, Banda Aceh masih bau. Saya hanya menunggu sampai 2 bulan untuk menemukan Mama saya. Setelahnya saya menyerah. Saya sudah ikhlas”

 

 

Museum Tsunami

Museum yang berdiri dengan Ridwan Kamil sebagai arsiteknya,  berdiri megah di jln Sultan Iskandar Muda no 3, Banda Aceh, dekat dengan mesjid Raya Baiturrahman.  Berbentuk seperti dome 4 tingkat,  seluas 2.5 hektar dan membuat siapapun yang melihat sedikit  merinding. Ntahlah,  aku masih teringat teman-teman yang harus meninggal dan hilang saat kejadian dulu.  Tiket masuknya gratis, walopun semua orang  tetap dikasih tiket berupa kertas yang nanti diberikan ke penjaga pintu di depan. Sebuah helicopter polisi yang rusak diterjang banjir,  jadi pajangan pertama yang kita lihat sebelum masuk ke dalam museum.

IMG20170822100449 IMG20170822100814

Gedung museum tsunami

museum tsunami

Helicopter polisi yang diterjang banjir

museum tsunami museum tsunami

Lorong masuk yang  gelap, sempet membuatku tersandung.  Suara air  mengalir dari kiri kanan dinding dan sebagian  menetes dari atas,  memberi kesan lembab,  gelap,  dan seolah balik ke masa saat tsunami terjadi, suram.

 

Kita memasuki sebuah ruangan luas yang berisi meja-meja dengan layar monitor yang menampilkan foto-foto saat kejadian.  Bukan gambar-gambar  yang menyenangkan pastinya.  Orang-orang  menyelamatkan diri,  anak kecil yang hanyut, para keluarga mencari kerabatnya di antara mayat-mayat, muka kosong yang jelas-jelas shock, bangunan hancur, ato foto before dan after Aceh sebelum Tsunami . Airmata gampang mengalir di sini, melihat semua hasil jepretan kamera .

museum tsunami museum tsunami

Beberapa Alquran yang rusak terkena air

museum tsunami

Sumur Doa

Bagian lain dari museum,  di mana sebuah ruangan bulat yang dindingnya dari bawah hingga atas diukir dengan nama-nama para korban.  Ingin mencari beberapa nama  teman yang aku kenal dan meninggal saat kejadian,  tapi ga berhasil.  Terlalu banyak nama-nama yang tertulis.  Di bagian atap ruangan,  terpampang  asma Allah. Sebagai reminder untuk semua,  bahwa apapun yang terjadi,   ini sudah atas kehendaknya.

Sumur doa dengan nama-nama para korban tertulis di dindingnya

sumur doa museum tsunami

Asma Allah di bagian atas, merinding 🙁

museum tsunami

Ruangan Lain di Museum Tsunami

Memasuki  ruangan pamer lain,  masih memajang  diorama-diorama  saat tsunami,  kondisi kota yang rusak parah, video para saksi,  juga ada penjelasan tentang tsunami dan apa yang harus dilakukan, kalo suatu saat ini terjadi lagi.

Diorama yang menggambarkan saat tsunami terjadi

museum tsunami museum tsunami aceh museum tsunami

Bendera para negara yang membantu, ikut dipajang di sini

museum tsunami

Film dokumenter

Dan bagian yang tersedih,  sukses membuatku merinding dan susah payah menahan airmata,  saat menonton film dokumenter dari kumpulan video yang sempat diambil oleh para amatir,  dan media TV yang meliput.  Cerita dari saat air setinggi pohon kelapa,  menerjang kota dan membuat runtuh banyak bangunan, arusnya yang terlihat kuat, hitam dan deras , dengan gampangnya bisa menghanyutkan mobil,  dan bahkan 2 kapal besar sampai terdampar di atas rumah penduduk,  sumpah.. perasaan takut,  gemetar dan airmatapun ga bisa kutahan..

Kapal nelayan yang terdampar di atap rumah penduduk

kapal nelayan tsunami kapal nelayan

 

 

 Feeling orangtua selalu kuat.  Pelajaran yang bisa aku ambil saat itu,  ga pernah ada ruginya mengikuti apa yang diminta orangtua.  Mungkin,  awal-awal dipaksa pindah ke Penang,  aku merasa papa egois,  Tuhan ga adil,  dan segala judgement yang asal aku tumpahin. Tapi 2 tahun setelahnya,  jawaban “KENAPA” tadipun,  akhirnya terjawab.

 

Tsunami ini mungkin mimpi buruk bagi beberapa orang,  trutama yang merasakan langsung,  ato yang keluarganya menjadi korban. Terlepas dari itu,  sisi baik dari tsunami tetep ada.  Aceh, terutama Banda Aceh yang aku lihat,  jadi jauuh lebih cantik,  dengan jalanan mulus yang mengalahkan ibukota malah.  Pemberontakan GAM yang banyak memakan korban jiwa,  berakhir dan akhirnya menemukan titik win win solution dengan pemerintah. Kadang Tuhan menegur  atau memberi ujian kepada umatnya dengan cara-cara yang mungkin menyakitkan. Tapi toh, dengan kebaikan di akhirnya…

198 tanggapan untuk “KILAS BALIK TSUNAMI, MELALUI MUSEUM TSUNAMI ACEH”

  1. indiRa mengatakan:

    Haiii Kak Fanny…ceritanya nostalgia yaa hehehe.. Sedih kali kalo ke Museum Tsunami, bawaannya kangen nangis terus..hiks.

  2. sulis mengatakan:

    Ada hikmah ya mba..pindah kuliah. Untung pindah..klo nggak..

    Iya mba..ngeri bnget pas gmpa/tsunami itu.. Dan 2006nya Jogja yang kena. Rumah ortuku 80% ambruk. Kmi ketakutan juga krn sempat ada isu tsunami…

    Untung semua udah berlalu mba..

  3. Hastira mengatakan:

    membayangkan orang yang mengalaminya ya

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      kalo dr cerita temen2 yg survive pas kejadian, ihhhh nangislah mba.. ga kebayang soalnya… aku bersyukur ga hrs ngerasain itu

  4. Turis Cantik mengatakan:

    aku juga pernah ke sini mbak. Entah kenapa pas masuk kyk goa menuju nama korban aku juga agak merinding. Apa mungkin krn ada suara audio dan gemiricik airnya ya.

  5. Alhamdulilah ternyata ada satu makna di balik kata2 papa ya mb, duh aku pas jmn kpn itu ya waktu tsunami, kayaknya smp deh
    Salah satu destinasi wajib ke aceh ni buat ngenang fenomena terdasyat sepanjang 2004

  6. jalan jalan mengatakan:

    museum yang menarik walau mungkin menyimpan banyak kenangan perih namun semua pasti ada hikmahnya

  7. Rudi Chandra mengatakan:

    Selalu merinding kalo udah cerita tentang tsunami itu.
    Syukur banget ya mbak saat itu mbak gak di Banda.
    Kalo di sana bahaya banget tuh.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      bersyukuuuur banget mas… apalagi stlh ngeliat rumah yg dulu aku tempati hancur rata ama tanah. ga kebayang samasekali 🙁

  8. Lia Lathifa mengatakan:

    sambil baca aku menahan nafas mbak, apalagi lihat sumur doanya, beberapa teman dan kakak kelas aku juga ad yg wafat saat kejadian, semoga mereka semua husnul khotimah. Firasat orangtua memang luar biasa ya

  9. SuikaLova mengatakan:

    waktu berita tsunami ramai di tv mamaku selalu nangis, beliau bilang manusia bener-bener kecil. aku suka wisata museum, semoga ada kesempatan mampir ke museum tsunami aceh, amiin

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya mba… manusia itu ga ada apa2nya kalo hrs melawan air yang marah, bumi yg marah, ato ciptaan Tuhan lainnya. keciiil banget kita ini… kadang kita baru bersyukur setelah ada musibah yg luar biasa seperti ini

  10. Akbar S. Yoga mengatakan:

    Alhamdulillah ya, karena pindah Mbak Fanny dan sekeluarga selamat. 🙂

    Jadi inget surah Al-Baqarah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

    Nggak kepikiran sebelumnya kalau bencana tersebut bisa dikenang menjadi museum. Kerenlah yang mencetus idenya. 😀 Pak Ridwan Kamil juga keren jadi arsiteknya. Ehe.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      bener banget yog.. kadang kita ga tau apa sbnrnya yg terbaik utk kita yaa… awalnya kliatan buruk, ga sesuai, tp hikmahnya baru kliatan kdg lama sesudahnya… di situ baru manusianya bersyukur 🙁

  11. Nikmal Abdul mengatakan:

    Aku waktu kemarin ke Aceh sempat juga ke Museum Tsunami, memang pas nonton film dokumenternya buat merinding 🙁

  12. Sandra Nova mengatakan:

    Duh Fan.. Papamu kok feeling so good ya, alhamdulillah meskipun gimana2 Fanny nurut, aku aja merinding baca ini dan ngga kebayang kalau kejadian tsunami Aceh menimpa keluarga aku langsung 🙁
    Semoga semua orang belajar dari kejadian ini, memang ini musibah & bencana alam, tapi bisa juga peringatan dari Allah bagi umatnya 🙂

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      itu dia san… kok ya feeling papa bisa pas gitu.. sampe skr aku msh merinding kalo bayangin seandainya wkt itu ga nurut 🙁

  13. Enny mengatakan:

    Merinding mba baca pembukaannya, alhamdulillah Mba masih dilindungi Allah.
    makasih juga foto-fotonya serasa jalan-jalan kesana, semoga one day ada kesempatan langsung ke Aceh ^^

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      aamiin…. suatu hari nanti harus kesana mba… aceh udah cakep banget skr… 🙂 brubahlah sjk tsunami

  14. Wian mengatakan:

    Ajaib ya mba. Omongan orang tua tuh pasti ada benernya. Dan aku udah mengalami itu bbrp kali.

    Aku merindiiingg mba bacanya. Gimana klo aku lgsg liat disana. Dijamin mewek aku, la wong cengeng kaya gini.

  15. Hanni Handayani mengatakan:

    wah asyiknya bisa ke museum, dulu saya juga pernah liat di youtube tentang museum ini

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      krn aku liat di youtube dan penasaran banget liat lgs, makanya akhirnya niatin hrs bisa kesana mba.. alhamdulilah udah kesampaian

  16. Dila Augusty mengatakan:

    Saya mulai tertarik pengen ke Aceh itu setelah tinggal di Medan ini, Mb. Apalagi dengar tentang keindahan Sabang. Aduuuuh tambah kepengen kesana
    Museum Tsunami dan Masjid Raya bakal jadi list klo liburan kesana. Sama satu lagi, cari tas Aceh *kapan ya kesana *

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      jalan darat aja mba… kmarin aku jalan darat dr medan ke aceh :). pegi pagi, malam udah sampe kok.. worth it bangetlah didatangin

  17. Johanes Anggoro mengatakan:

    Masih saja merinding tiap kali membaca artikel ttg museum tsunami ini. Semoga bisa berkesempatan kesana

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      aamiin… aceh bener2 udah berubah total mas… haruslah dtg kesana… apalagi kulinernya mantap2 😀

  18. Winny Widyawati mengatakan:

    Ya Allah saya ingat lagi peristiwa tsunami ini. Beberapa bulan menguasai kesadaran saya pada betapa lemahnya manusia. Tapi dari musibah memang banyak hikmahnya ya mbak, semoga semua korban mendapat ampunan dan rahmatNYA aamiin

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      bener mba… aku kayak ngerasa blank pas napak tilas ke tempat2 yg aku pernah tinggalin di banda aceh… berasa ga nyangka, semua tempat itu rata ama tanah… 🙁

  19. Nathalia DP mengatakan:

    Bacanya aja merinding, gmn kalau liat lgsg ke sana…

  20. herva yulyanti mengatakan:

    Mules bacanya mb part papa mba maksain kuliah di Penang lalu 2004 tjd tsunami mmg ortu sll kasih pilihan yg terbaik bwt kita y mb untuhgnya mba Fanny nurut hehehe wlw perang dingin 😁.
    Museumnya keren bgt Kang Emil juara arsiteknya dan aku masi inget th 2004 saat berita ttg tsunami meski g pny sodara disana tp aku sll nangis mba liat kondisinya yg parah bgt. liat foto2 ini jg aku sedih lagi rasanya ga percaya Kota serambi mekah sampe dikasi cobaan yg hebat bgt 😢 doain y mb smg aku bisa ke ACeh hehehe aamiin bisa liat museum ini n mesjid baiturrahman 😁

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iyaaa, bangunanya unik walopun blm semua lantai dipergunakan mba… masih ada lantai yg dlm tahap renov ato pembangunan,yang paling atas trutama… tp keseluruhan museum ini bagus dan semoga bakal tetep bagus. secara ga ada tiket masuk… berarti maintenancenya dr pemda kan… hmmm…..

  21. Andi Nugraha mengatakan:

    Hai, Teh Fanny. Baca ini aku jadi tahu dan gak penasaran lagi. Udah lama pengen banget bisa lihat langsung dalamnya museum tsunami. Alhamdulilah jadi tahu, cuma tetap masih pengen kesana, pengen lihat langsung sekalian ngabadiin foto..hehe

    Semoga bisa kesana langsung. Sekarang sudah terlihat berbeda banget ya, Teh, udah banyak tertata dan lebih bagus 🙂

  22. Dita Indrihapsari mengatakan:

    Mba Faaan, aku merinding baca ceritamu ini.. Ternyata dirimu sempet kuliah di Banda Aceh ya mba.. Aku masih inget banget dulu pas kejadian liat di tv, Ya Allah liat di tv aja rasanya sesek apalagi yang ngalamin.. 🙁 Kakakku sempat dikirim ke Aceh juga 4 tahun ikut pembangunan di sana pasca tsunami.. Bagus ya museumnya mba, yang sumur doa itu iya bikin merinding juga liat fotonya..

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Bersyukur banget banget aku ga ngalamin krn sempet pindah dari sana mba.. tp sedih aja krn temen2 banyak yg jd korban

  23. Nurul Sufitri mengatakan:

    Mbak Fanny, aku beneran merinding baca tulisan ini. Sedih banget ya. Temenku juga ada yang sanak saudaranya meninggal dunia semua, tinggal sisa beberapa orang aja. Alhamdulillaah ya mbak Fanny dengerin kata papanya. Kalau ga, hmm…. Nasehat orangtua itu sepertinya sebuah feeling ya. Bisa dipetik jadi pelajaran nih.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya mba.. jangan pernah lah ngelawan kata orang tua… semua itu demi kebaikan kita.. kdg, kita ga bisa ngeliat apa hikmahnya sekarang… bisa aja hikmahnya baru ketahuan setelah bertahun2 🙁

  24. Orangtua memang punya firasat kali ya mba, kdg kita nih sbg anak bandel aja hehe. Keliatannya museumnya megah dan bagus banget. Serem melihat diorama saat2 terjadinya Tsunami 🙁 .

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iyaaa.. biasalah ya mba… ank itu memang sukanya melawan :(.. dan aku nyesel dulu pernah ngelawan papa..

      keren kok bangunannya ini.. walopun dalamnya menurutku blm maksimal… masih bnyk ruangan yg harusnya bisa digunain utk display yg lain…

  25. fika anaira mengatakan:

    mba aku merinding ngerasain firasat papa mba, orang tua memang selalu ingin yang terbaik buat anak-anaknya ya… kalo udah punya anak baru terasa, dulu juga sering debat sama ayah

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      bener mba… akupun berharap anak2ku nanti ga ada yg ngelawan kyk aku :(.. firasat orangtua selalu bener kok… jgn pernah diremehin

  26. Revi Okta mengatakan:

    Duh, merinding sekaligus sedih. Aku pengen banget mba dateng ke museum tsunami, pengen tau lebih banyak tentang kejadian saat itu. semoga nanti bisa kesampean.

  27. Nasirullah Sitam mengatakan:

    Museum tsunami ini mengingatkan sebuat tragedi besar, namun semua bisa bangkit. Entah melihat foto nama-nama mereka yang meninggal itu merinding rasanya.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      yaaa, bersyukur aceh bisa bangkit dan jd jauuuh lbh bagus mas 🙁 Tapi memang, masuk ke museum ini merinding rasanya

  28. Jalan-Jalan KeNai mengatakan:

    Semerinding apa ya kalau suatu saat saya bisa ke museum itu. Saya hanya melihat kejadiannya di tv aja rasanya masih terbayang-bayang sampai sekarang. Ikut merasakan gimana sedihnya. apalagi yang menjadi saksi mata langsung, ya.

  29. Ya ampun, ternyata mbak dulu tinggal di Banda Aceh ya. Bener-bener ada hikmahnya ya mbak.

    Aku penasaran sama sumur doa itu. Bagian paling bagus kayaknya dari museum ini. Merinding banget ya kalau berada di sana.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      aku 18 thn di aceh utara lhokseumawe mas.. trs 1.5 thn di banda aceh 🙂

      kalo aku yg paling bikin nangis sebenernya pas nonton film dokumenter.. tp memang yg paling magis suasananya itu sumur doa

  30. Mugniar mengatakan:

    Ya Allah, melihat foto-fotoya saja saya merinding, Mbak Fan. Kalau melihat langsung pasti lebih lagi.

    Kisah pertengkaran dengan bapak itu …. akhirnya jadi kenangan tersendiri ya Mbak. Speechless saya membacanya.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya mba… alhamdulillah hubungan ama papa sekarang mah udah baik… krn aku lgs nyesel sejadi2nya pas tsunami itu… seandainya aku ngelawan, ga kebayang seperti apa yg harus aku hadapin di banda aceh

  31. monda mengatakan:

    merinding baca ini, Allah Maha Besar, Maha Perencana Maha Pengatur atas semua kejadian ini

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya mba…. ini pengingat kalo manusia itu keciiil banget dihadapan Dia.. ga akan bisa ngelawan ama semua kehendak Nya 🙁

  32. Ery Udya mengatakan:

    Aku merinding bacanya, Mbak.. Dan orang tua selalu memberi arahan yg terbaik. Sungguh sangat beruntung dan bersyukur ya, Mbak, mau pindah ke Penang.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      bener mba…. aku nyeseeel banget sempet marah ama pap, walopun aku ikutin perintahnya… 🙁 . bersyukur aku udah pindah dari banda pas tsunami

  33. Ria mengatakan:

    waktu tsunami terasa sampai ke Belawan; saat itu aku lg liburan ke sana. Gak kepikiran ada tsunami krn tanteku blg sering gempa di Belawan. Ealah pas pasang tv sdh terdata 5000 orang korban dan angka bertambah terus. Museum ini bisa dibilang utk mereka yang terenggut dan tak kembali lagi ya mbak…
    Merinding jg mikir kl mbak tetap membantah papanya …

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya mba… ini untuk mengenang para korban tsunami dan sebagai penghormatan juga… bisa juga utk pengingat dan pembelajaran buat semua gimana langkah yg harus kita ambil saat ada tanda2 tsunami 🙁

  34. Anis Hidayah mengatakan:

    Kali ini setuju mbak saya, mengikuti perintah yang diberikan oleh orang tua. Wah aku bacanya juga ikutan merinding mbak. Akhirnya mama nya sampean ketemu nggak mbak? berarti sebelum ke Solo disini ya mbak rumah Mbak Fanny sebelumnya? 🙂

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      mas, mamaku mah ga ilang…. yg ilang itu mama nya petugas hotel yg kita inapin… yg di solo mah itu mertuaku… bukan aku 🙂

  35. Amanda mengatakan:

    Waktu ke Aceh, museum ini nggak buka mba, aku gemes padahal tujuuan ke Aceh pengen banget tau isi museum ini, eh malah tutup.. T_T isi blognya kurang mba, aku nggak puas bacanya, kayaknya masih banyak sudut-sudut yg belum diulas tuh :p

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya sih, banyak sudut2 yg ga terlalu aku tulis krn sbnrnya blm terlalu komplit mba :).. masih banyak kyk ruang kosong… tp okelah, udah bisa bikin orang yang melihat jadi nangis

  36. hendi mengatakan:

    masuk ke museum ini, mungkin saya bisa menangis, mengenang bencana alam yang super dahsyat, teriring doa untuk para korban

  37. Nita Lana Faera mengatakan:

    Dirimu dulunya memang tinggal di Aceh ya, Mba. Alhamdulillah rezeki Papa bisa menguliahkan anak sampai ke negeri tetangga. Saya baru tau ada museum tsunami ini. Banyak banget ya nama2 yg tertulis. Jadi pengingat kita juga kalau takdir bisa terjadi kapan aja, kalau memang kehendak Allah.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      papaku kan kerja di Perusahaan gas alam cair di aceh mba :)… makanya dulu aku lama di sana… korbannya 28rb lebih mba… ga heran nama2nya sebanyak itu

  38. nur rochma mengatakan:

    Nggak sanggup deh membayangkan tsunami aceh dulu. Lihat videonya amatir dulu, rasanya merinding, mewek deh. Alhamdulillah sudah lebih baik ya Aceh.

  39. mila mengatakan:

    dulu waktu aku ke aceh belum ada museum ini. tapi pingin sih balik lagi kesana, sekalian mau jalan2 ke sabang

  40. Ucig mengatakan:

    Mba fan.. masya Allah mbaa. Peluk.
    Ya Allah aku baca postingan ini sedih. Sahabat aku orang Aceh. Sekolah dia hancur. Saat itu dia Ada di Jkt. Denger critanya aja aku sedih bgt.
    Bener mbaaa, nggak ada ruginya mengikuti apa kata ortu selama masih baik. Barakallah mba dirimu masih dilindungi Allah 🙂

  41. Roma Pakpahan mengatakan:

    Boleh nih berkunjung ke Museum Tsunami kalo maen ke Aceh.

  42. Latifika Sumanti mengatakan:

    aku merinding mba bacanya. Haru, sedih campur aduk

  43. Mira Kaizen mengatakan:

    Aku pengen banget ke sini mbk….belum kesampean. hiksss

  44. jefferson mengatakan:

    keren abis deh kisahnya. Sampe perang dingin dengan ayah sendiri sih ya. Tapi kalau disuruh kuliah di Malaysia saya juga nggak nolak sih, tapi mungkin akan berpikir berkali2 kalau udah 3 semester di Indoneesia. Sudah takdir mungkin ya disuruh kuliah di penang, kalau inget rumah yang di banda dulu hancur lebur sih merinding juga tuh mbak fanny… burrrr

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      banget jev… aku merinding pas sampe banda aceh… dan kaya mau nangis liat kondisi rumah yg skr msh ga berpenghuni… rusak.. :(.. ga tau aku bakal gimana seandainya ga pindah ke penang

  45. Larasati Neisia mengatakan:

    Udah lama banget aku baca-baca info tentang museum tsunami ini mbak. Pengen banget kesini kalo ada kesempatan ke Aceh. Baca postingan Mbak Fanny ini aja aku merinding sambil nahan air mata. Apalagi pas bagian sumur doa, itu pernah di post sama Pak Wali di ig nya :’)

    Tahun 2004 lalu aku masih SMP masih belum ngeuh banget bencananya maha dahsyat. Keluargaku di Medan juga ikut rasain gempanya waktu itu.

    Allah Maha Baik Mbak, everything happens for a reason 🙂

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Bener Nes… semua ada alasan dan hikmah… kadang manusianya aja yg telanjur marah2 duluan menganggab Tuhan ga adil.. padahal pas tau hikmahnya kemudian, baru deh bersyukur kemudian… Aku banget itu 🙁

      kalo ke aceh, kamu harus kesini… aku lgs nangis pas liat foto2nya ,, mungkin krn aku prnh tinggal di sana, temen2 kuliahku banyak yg meninggal.. jd sedihnya lebih berasa banget

  46. Mei Wulandari mengatakan:

    Ya Allah mba FAnny.. aku ikutan sedih, nangis, dab merinding baca ini. Aceh memang telah tsunami tapi selalu ada cerita baik setelahnya ya. Moga2 almarhum mendapat tempat di sisi Allah ya mb. Memang museum itu bisa menandakan betapa kita manusia hanyalah kecil.

    Itu yg sumur doa bikin nangis hiks hiks

    Oh ya, ternyata ada hikmah dibalik papa km nyuruh pindah ke Penang ya mb. Alhamdulillah ternyata Allah kasih peringatan lewat papa

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya mei, aku aja lgs sediiih banget pas masuk ke museum ini. keinget ama semua temen2 yang jd korban, keluarga kos ku dulu… nangislah kalo liat videonya mei 🙁

  47. Ira Duniabiza mengatakan:

    Semoga yang hilang dalam Tsunami belasan tahun lalu ditempatkan ditempat terbaik disisiNya. Semoga Aceh semakin aman dan konflik yang pernah terjadi tidak lagi terulang…

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Aamiin mba. Iyaa, semoga konflik yg dulu di aceh ga pernah terulang lagi. Sereeem mba.. Aku ngerasain pas tentara lg tembak2an ama gam di belakang rumah. Sampe ada peluru kena kaca jendela. Trauma akunya.. 🙁

  48. Liswanti Pertiwi mengatakan:

    Selalu ada hikmak ya mba, memang benar kita jadi anak jangan suka membantah orang tua, karena pasti untuk kebaikan.
    Baca tulisan ini jadi ingat cerita teman-teman yang jadi relawan disana. Belum lagi denger cerita-cerita dari masyarakat sekitar yang kehilangan keluarga.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Bener mba.. Jgn pernah deh ngelawan kata ortu.. Nyesel ujung2nya 🙁 .. Aku bersyukur aku tetep mau pindah walopun marah banget ke papa 🙁

  49. Kuma Seo mengatakan:

    Blognya unik sekali, baru pertama kali berkunjung, slam silaturahmi ya kak.

  50. lianny hendrawati mengatakan:

    Duh nggak kebayang ya Fan kalo dirimu masih di sana waktu itu, untunglah sudah pindah duluan. Hikmah yang bisa diambil, kita harus nurut deh sama orang tua, karena tiap orang tua pasti ingin memberikan yg terbaik buat anaknya ya.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Itulah mba.. Ga kebayang kalo aku ngelawan dulu 🙁 sereeem bayangin tsunaminya. Inget tetangga dan temen2ku yg meninggal

  51. Nia K. Haryanto mengatakan:

    Pengen deh bisa mengunjungi museum itu. Walopun pasti sedih lihatnya. Gak kebayang kalo salah satu anggota keluarga jadi korban tsunami. Lihat sodara2 Kita di sana aja, hati rasanya remuk redam. 🙁

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Sedih banget mba. Apalagi banyak temen2ku yg jd korban di sana.. Mayatnya jg ga ketemu.. Ada 1 temen, yg ikutan meninggal, dan ditemuin dia sedang meluk 2 anak kembarnya. Pas denger beritanya aja, aku sampe nangis

  52. Khairul fuad mengatakan:

    Tsunami masih menyimpan luka untuk warga Aceh sampai sekarang, sempat waktu ke Aceh nanya” sama abang bemor yang sekeluarganya meninggal sampai dia nangis ngeceritainnya

    Jadi rindu ke Aceh lagi:(

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Kalo aku sih pasti bakal selalu kangen ama aceh. Walo bukan org aceh, tp aku besar di sana 18 thn. Kota ini punya sejarah buatku 🙂

  53. Indah Nuria mengatakan:

    Semua ada hikmahnya yaaaa… aku belum pernah ke sini Fanny.. pengen dan semoga kesampaian suatu saat

  54. liknana mengatakan:

    Yang nggak ngalamin aja rasanya ikut bergetar….mbayangin perahu kok bisa sampai atap rumah, kota rata dengan tanah ….Allahuakbar

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Itulah mba.. Aku aja ga bisa bayangin sampe skr, gmn ceritanya kapal bisa naik k atap rumah, dan itu jauuuh dr pelabuhan loh 🙁 . Kuasa allah ya mba

  55. Lia Harahap mengatakan:

    Alhamdulillah mbak sehat selalu ya.

    Aku kayaknya kalau ke museum ini bakalan nangis bombay deh. Tapi pengen banget liat.

  56. iKurniawan mengatakan:

    waktu ke Aceh kemarin, museum ini ada di ujung jalan dari tempat saya menginap. 1km palingan..

    tapi kok ya mau jalan mager banget. gak ada transport pula.

    sekarang nyesel gak main kesitu. cm sempet liat bangunannya aja. keren.
    🙁

  57. Ika Hardiyan Aksari mengatakan:

    Baca cerita petugas hotel itu kok aku merinding. Setahun masih bau? Allahuakbar…

    Semoga mereka yang menjadi korban diberi tempat terindah di sisi Allah.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      aku jg ga kebayang mba :(.. pas kejadia sampe bberapa thn kemudian cuma liat beritanya di tv dan koran… aku ksana kmrn sih semua udah bagus dan bersih …

  58. Triani Retno A mengatakan:

    Seperti pakdeku yang beberapa bulan sebelumnya memulangkan semua anaknya ke keluarga besar di Solo, dengan alasan biar belajar di sana. Pakde sendiri tetap di Aceh dan hilang dalam kejadian itu.

  59. Rudi MedanWisata mengatakan:

    Pernah sekali ke Aceh,, cuma saat itu lagi renovasi museum nya,, jadi lum sempat masuk.

    hiks,, semoga bisa kesana lagi deh.

  60. Yessi Greena mengatakan:

    ga kebayang kalau nggak jadi pindah kuliah ke Penang ya, mba…
    itulah kenapa kita harus mendengarkan omongan orangtua ya
    aku masih di Medan waktu gempa tsunami itu, gempanya kerasa banget dan lama 🙁

  61. anesa nisa mengatakan:

    merinding euuy liat-liat fotonya.
    aceh, kota tujuan aku buat next destinasi. konon pantainya bagus bagusssss banget.
    mudah-mudahn smday bisa ke sini, termasuk museum tsunami.

  62. Titik Asa mengatakan:

    Tentang Tsunami ini memang sangat sangat memilukan. Haru biru saya mendengar cerita teman kerja yang keluarganya ada yang menjadi korbannya.

    Saya baru tahu ada museum Tsunami di Aceh. Ingin sekali saya berkunjung kesana.

    Salam dari saya di Sukabumi,

  63. zakky mengatakan:

    bagus buat mengenang tsunami sekaligus agar lebih waspada kedepannya. semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi di Indonesia:)

  64. deddyhuang.com mengatakan:

    masih belum tuntas rasa penasaranku sama Aceh. pengen bisa ke aceh sekaligus sabang.. museum tsunami ini sering kali aku baca dan bikin merinding.

  65. lagu dangdut mengatakan:

    semoga ratusan ribu orang yang meninggal diampuni dosa dosanya. dan musium ini sekaligus menjadi pengingat agar kita selalu waspada 🙂

  66. Pritahw mengatakan:

    aku ikut merinding nih bacanya dan lihat foto2nya, bayangin kl ada disana beneran. Semoga ini bisa diambil ibrahnya ya mbak 🙂

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      sama mba.. aku pas di sana juga merinding luar biasa. ngebayangin kuatnya air yg masuk ke kota dan ngeruntuhin bangunan2.. sereeem 🙁

  67. Ranny mengatakan:

    Feeling orangtua nggak salah ya Fan. NGgak elok juga kita menyalahkan mereka, ternyata ada rencana baik olehNya untuk kita.
    Aku baca ini jadi ingat kilasan tsunami 2004, sedih banget lihatnya. Senang dibangun museum ini, jadi pertanda bagi kita akan Maha Besar kuasaNya.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      bener ran… semua yg dibilang ortu jgn dilawan deh :).. feeling mereka memang jauuh lbh kuat kadang.. museum ini sumpah keren.. seolah kita ikut ngerasain pas kejadiannya dulu 🙁

  68. Daeng Ipul mengatakan:

    Ini salah satu museum yang pengen banget saya datangi, Insya Allah suatu hari nanti

    melihat gambar2 di atas saja rasanya merinding saya,
    gak tahu kalau lihat langsung ke sana

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      harus datang ke museum ini kalo ke aceh mas :).. lgs nyeseeek banget liat foto2 dan videonya

  69. Rhoshandhayani KT mengatakan:

    wuaaaaah salam kenal kak fanni
    sepertinya ini pertama kali kunjunganku ke sini, hehehe
    takjub sama sapaan di beranda
    kece ih

    salah satu museum yang pengen aku kunjungi itu ya ini, museum tsunami aceh
    duh gimana yaaa menjelaskan perasaan-perasaan itu
    menyamakan frekuensi dengan warga aceh yang ditinggalkan oleh orang tercintanya, tanpa tau jasadnya dimana

    iya kak
    aku juga punya pengalaman yang sama seperti kak fanni yang harus bersedia pindah ke penang, menuruti kata orang tua
    saat kuliah semester 5, aku tuh dapat kesempatan untuk ke taiwan, gratis. acaranya konferensi.
    tapi saat ijin ke Ibu, Ibu nggak ngebolehin, soalnya nggak ada temannya sama sekali
    ya aku nurut lah yaaa.. sambil berharap suatu hari akan ada rejeki yang lebih baik
    eh ndilalah, lah kok saat hari konferensi, lokasi konferensi tersebut kena badai besar
    Ya Salaaaam… memang benar ya kata orang tua
    kita kudu nurut
    ridho Allah ada pada ridho orang tua

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      alhamdulillah selamat juga ya mba.. makanya tiap ortu keberatan, aku usahain utk slalu nurut.. udah ngerasain sendiri kalo kata2 ortu itu pasti baik untuk kita :)..

  70. Doni Nurdiansyah mengatakan:

    semoga suatu saat bisa pergi kesana…salam dari bandung, semoga aceh selalu dalam lindungan Allah swt

  71. Alid Abdul mengatakan:

    Aku merinding lihat foto yang Sumur Doa itu 🙁
    Museum ini sudah masuk list kunjungan sejak lama. Tapi belum kesampaian ke Aceh. Dan aku baru tahu klo Mbak Fanny asli Lhokseumawe

  72. Dian Restu Agustina mengatakan:

    Alhamdulillah mendengarkan kata orang tua..:)

    Saya ke Banda sekitar setahun lebih pasca tsunami..Masih berantakan dan terus dirapikan..
    Museum belum jadi..Kapan hari pengin ke sini lagi

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya mbaaa.. aku bersyukuuuuur banget dulu nurut kata papa, walo awalnya marah2 gitu 🙁 .. banda udah cantiiik banget sekarang mba.. harus datang lagi lah kesana 🙂

  73. Tian Lustiana mengatakan:

    Betul , feeling orangtua pasti selalu benar, semata – mata yang terbaik untuk anaknya

  74. ericka mengatakan:

    Lihat foto-foto dan ceritanya aku udah merinding dan rada mewek mbak 🙁 jadi pingin juga kesana. Memang mengikuti nasehat orang tua itu yang paling selamat, meski kadang kita benci

  75. ericka mengatakan:

    Lihat foto-foto dan ceritanya aku udah merinding dan rada mewek mbak 🙁 jadi pingin juga kesana. Memang mengikuti nasehat orang tua itu yang paling selamat, meski kadang kita benci, tapi orang tua adalah restu Tuhan, sukses terus ya mbak dengan keluarga

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Iya mba. Kapok lah pokoknya kalo ga nurut ama ortu. Aku udh ngerasain sendiri feeling ortu slalu kuat buat anaknya

  76. gheasafferina mengatakan:

    Mbak faan jangankan kesana, baca doang aja udah berkaca-kaca. Sedih inget dulu masih kecil waktu di TV berkali-kali nyiarin tentang tsunami, apalagi korban-korban yang begitu banyak di jejer-jejer huhu. Feeling papanya mbak kuat banget ya, ternyata emang selalu ada hikmah yah mbak..

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Feeling ortu ga bisa dianggab remeh ya mba 🙁 . Nyesel aku sempet marah2 dan ngambek lama ama papa

  77. Anisa Ae mengatakan:

    Jadi sedih. Waktu kejadian tsunami, aku masih sekolah.

  78. Pipit Widya mengatakan:

    Wiw, komennya banyak amat. Saya belum pernah ke Aceh. Tiap baca/denger ttg tsunami, langsung merinding. Sebab dulu teman kuliahku orang Aceh. Dia cerita tentang keluarganya yg terkena tsunami.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Banyak yg keluarganya sampe skr ga ketemu mba. Bbrp temenku jg ada yg ga ketemu jasadnya. Udah pada ikhlas sih keluarga biasanya

  79. Veri Maolana mengatakan:

    Firasat seorang ayah mungkin.
    Kita sebagai anak harus menuruti kata2 ayah. Ini salah satu contohnya

  80. Zizy Damanik mengatakan:

    Membaca ini membuatku kembali ke kilas saat itu.
    Berkesan juga, karena malam sebelumnya itu aku sedang demam tinggi, kemudian pergi untuk makan Indomie di warkop harapan (biar panasnya keluar semua gitu mksdnya). Gempa terasa keras sampai Medan.
    Senin pagi di kantor, gak kuat dan pergi ke RS ditemani sahabatku orang Aceh. Di sana baru tahu kalau ternyata aku kena cacar. Dan kami juga baru dapat kabar soal Tsunami Aceh.
    Saudara sahabatku itu ada yang hilang dan belum ketemu sampai terakhir kabar yang aku dengar.
    Tsunami Aceh memang memberi luka banyak, terutama buat mereka yang merasakan, dan bertetangga. Bagaimana anak-anak Aceh yang kehilangan orang tua, keluarga yang kehilangan rumah, harus turun ke Medan supaya bisa hidup. Ya Tuhan, sesak rasanya kalau diingat.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Ngeri ya mba kalo diinget.. Akupun masih sedih kalo inget temen2 yg jd korban. Untungnya g ada sodara yg kena sih.. Kbanyakan memang temen2 kuliah. 🙁 . Di medan keras ya gempanya.. Di penang ga terlalu terasa

  81. Chaycya Oktiberto mengatakan:

    Melihat lorong di museum itu merinding ya.. seolah napak tilas kejadian tsunami itu.. Hiks..

    Itulah mengapa dikatakan everything happen for a reason ya mbak. Andai dulu tetap stayed di Banda, apa yang tak terpikirkan pasti terjadi.. Syukurlah mba sehat2 dan akhirnya bisa menuliskan kisah ini.. Appreciated it.

    Salam kenal mba.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Iya mas.. Kdg hikmah dr suatu peristiwa itu ga lgs dikasih tunjuk ama yg di Atas. Manusianya aja yg suka suuzhon duluan, ngerasa Tuhan ga adil dsb 🙁

  82. Adie Riyanto mengatakan:

    Main ke sini tahun 2012. Masih merinding pas lihat foto-foto kejadian di sana, apalagi pas bagian Sumur Doa itu :'(

  83. Vindy Putri mengatakan:

    Aku merinding bacanya, Mbak… Sepertinya aura kesedihan masih pekat sekali ya kalau masuk di museum itu. Ikut merasakan betapa terpukulnya kita sebagai saudara harus kehilangan mereka di musibah yang nggak bisa terelak lagi… :'(

    Di saat itu aku di rumah sama kakak, adik, dan nenek. Soalnya orang tua lagi Haji. Dan aku takutnya bukan main tahu ada Tsunami Aceh. Agak trauma juga. Berita terus menerus diputar. Sampai aku ikut merasa trauma ketika saat ini pun dengar lagu pembuka siaran berita di Metro Tv.

    Ini menjadi trauma banyak orang.. termasuk aku di Tanah Jawa.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      eh lagu pembuka siaran berita di metro gimana ya? hahahah aku jrg nonton tivi :D…

      iya mba, sampe skr kalo inget tsunami aceh, masih sedih aja rasanya.. inget temen2 yg ilang dan meninggal… untungnya sodaraku ga ada di sana

  84. IRZAN ZULMI mengatakan:

    wah baru tau ada museumnya …

  85. Noni Rosliyani mengatakan:

    Untung banget pindah yaa.. Huhuhu.. Bisa kebayang gimana syoknya pas denger tsunami Aceh. Kalo aku berkesempatan main ke sana, kayaknya bakal terbawa emosi juga. :'( Jogja yg 2 tahun setelahnya gempa besar aja gini rasanya, apalagi setelah gempa masih dikasih tsunami.

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      iya mba… sampe skr kdg kebayang, gimana kalo aku dulu ga pindah dr banda aceh :(. ga kebayang seremnya harus ngerasain sendiri…

  86. Entah sudah berapa kali saya mampir ke blog kakak. Berkesan bagi saya, waktu itu ada kesempatan untuk mengunjungi negeri Serambi Mekah ini. Tidak lupa juga saya mampir ke museum tsunami. Luar biasa, melewati lorong yang seakan menjadi gambaran tsunami saat itu. Rasanya sangat mencekam, saya gak kebayang gimana rasanya teman teman yang saat itu merasakan langsung.

    main juga kak ke blog saya

  87. Azril mengatakan:

    sangat ini masuk ke museum tsunami terutama ke sumur doa untuk mendoakan sahabat saya disana

  88. muslimin11 mengatakan:

    Selalu sedih jika mendengar kejadian yang telah berlalu ini, tapi disetiap kejadian pasti ada Hikmah yang bisa kita petik

  89. Relinda Puspita mengatakan:

    Semua Ada hikmahnya, yaaa.

  90. Firda Winandini mengatakan:

    waktu kejadian tsunami Aceh ini aku masih SD kayanya, tapi sampe sekarang masih inget banget berita – berita di TV pas kejadian. Dan kalo skg denger ceritanya juga masih suka merinding

  91. Momtraveler mengatakan:

    Kampung halaman nan kurindukan. Banyak banget sodaraku meninggal paa tsunami mbak sebagian besar ga ditemukan jenazahnya makanya tiap kali main ke museum bercucuran air mata deh

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      oh iyaa, mba dr aceh yaaa… pasti lbh berasa sedihnya deh… aku aja yg cuma numpang tinggal di sana berasa banget seseknya kalo balik ke aceh 🙁

  92. Tuxlin mengatakan:

    Sedih kalau keinget bencana besar itu… Saya dulu masih SMA pas terjadi Tsunami aceh 🙁 Btw pengen juga mengunjungi museum tsunami, tapi jauh banget dari ruma saya hehehe… semoga nanti ada kesempatan ke sana 😀

  93. Yasinta Astuti mengatakan:

    Baca ini berasa terlempar dengan berita – berita yang aku saksikan di layar kaca saat itu. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, sedih banget liat nama – nama di sumur doanya ya mbak huhuhu.
    Yang terlibat langsung udah kebayang pasti berurai air mata kalau ke sini

  94. Bara Anggara mengatakan:

    Asliii,, merinding bacanya,, apalagi mbak yaa yg mengalaminya langsung, bagaimana kalau seandainy enggak pindah kuliah..
    Aku pernah keliling Aceh 2011 melihat sisa2 tsunami,, emang serem bgt pdhl itu udh bertahun2 yg lalu kejadiannya.. Duh merinding lagi euy keinget dahsyatnya tsunami di Aceh..

    Salam
    -Traveler Paruh Waktu

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      ngalamin lgs sih gak mas ;p… kebetulan aku sdg tidak di aceh pas kejadian.. aku ga kebayang kalo hrs ngalamin lgs, trauma sampe skr mungkin.. iya kalo selamat 🙁

  95. Helena mengatakan:

    Mbaaak, aku nangis baca ini. Selalu ngeri melihat dokumentasi tsunami di Aceh. Maut begitu dekat.

  96. anis lotus mengatakan:

    Itulah takdir ya mb, cara Allah buat menyelamatkan mbFanny. Ngeri banget meski cuma membayangkan kejadian stunami aceh… :'( . Semoga jadi pelajaran buat semuanya atas kejadian ini…

    • Fanny Fristhika Nila mengatakan:

      Iya mba.. Kalo skr aku sadar, itu cara allah nyelamatin aku. Tp pas dulu awal2, masih inget gmn marahnya aku.. Jd nyesel banget inget itu

  97. Ammar dental mengatakan:

    Sunguh sejarah yang tak bisa di lupakan

  98. dekcrayon tata mengatakan:

    Duh semoga bencana besar itu tak pernah terjadi lagi ya mbak. Ngeri. Meski hanya melihat dari layar TV

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About Me

Fanny Fristhika Nila

Email: fannyfristhika@gmail.com

My Twitter: @f4nf4n

Lihat profil lengkapku

Follow Me

Subscribe Tulisanku


Delivered by FeedBurner

Archive

«

About Me

Fanny Fristhika Nila

Email: fannyfristhika@gmail.com

My Twitter: @f4nf4n

Lihat profil lengkapku

Follow Me

Subscribe Tulisanku


Delivered by FeedBurner

Archive

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.