D'Cat Queen

Because Travelling is not just a passion, it is a life need!

MENU

Apr 2013

19

MENGENANG KEKEJAMAN KHMER ROUGE, CAMBODIA

Pagi ini, kami  merencanakan tur ke 5 tempat 😉 . Pheak sudah datang dari jam 8 pagi. Selesai sarapan di hotel, langsung berangkat naik tuktuk nya 😉 .

 

 

 

INDEPENDANCE MONUMENT & ROYAL PALACE – PNOM PENH

 

Lokasi pertama, INDEPENDENCE MONUMENT yang terletak di tengah kota. Monumen ini dibangun tahun 1958 oleh arsitektur Kamboja, Vann Molyvann. Kami hanya berhenti sebentar untuk mengambil foto, lalu melanjutkan perjalanan lagi ke ROYAL PALACE.

 

Cuma jujur aja nih,  aku ga tertarik dengan tempat-tempat begini. Apa bedanya dengan melihat-lihat istana presiden di Jakarta dan Bogor? Jadi  diputuskan hanya melihat bagian depan saja, tanpa harus membeli tiket masuk. Baru kemudian melanjutkan ke tujuan berikut, yang sudah  aku nanti-nantikan banget ^o^!!

 

Independence Monument

TUOL SLENG & KILLING FIELD

 

TUOL SLENG (S21) dan KILLING FIELD, dua tempat yang sudah  lama jadi bucket list ku!! Karena 2 tempat inilah, jadi alasan utama kami datang ke Phnom Penh. Tempat yang punya banyak history berdarah, yang membuatku rela rutin nabung supaya bisa melihat langsung.

Tuol Sleng
Sisi Lain Dari Gedung Tuol Sleng
Kawat Berduri, Supaya Tahanan Tidak Lari
Tuol Sleng

 

 

Tuol Sleng atau S21 MUSEUM

Tiket masuk ke Tuol Sleng,  USD 3 per orang. Tempatnya dulu bekas bangunan sekolah, yang diubah fungsi menjadi penjara sekaligus tempat penyiksaan orang-orang Kamboja yang dianggab melawan Polpot.

 

Bangunannya dibagi menjadi 4 gedung, A, B, C dan D. Jumlah korban diperkirakan jutaan orang, walopun di brosur-brosur hanya ditulis 20 ribu orang. 14 korban terakhir  ditemukan di penjara ini oleh team UFNSK (The United Front for the National Salvation of Kampuchea) pada tanggal 7 January 1979.

 

Kondisi korban kebanyakan  tidak bisa dikenali lagi disebabkan sudah membusuk. Tapi 1 orang berhasil diidentifikasi  adalah wanita. Sebagai rasa penghormatan, mereka  dikubur di depan gedung A, Tuol Sleng.

14 Kuburan Korban Terakhir Tuol Sleng

 

 

Satu demi satu  kelas, kami masukin. Dalam suatu ruangan ada dipan besi tanpa kasur, yang mulai berkarat. Di atas terdapat 1 kotak kecil terbuat dari besi yang katanya sebagai tempat buang air si tahanan dan semacam linggis. Hanya Tuhan yang tau kegunaannya. Aku cuma berharap itu bukan alat untuk menyiksa  🙁 .

 

Beberapa ruangan lain, ada sebuah foto buram, menggambarkan posisi korban saat ditemukan. Sediih banget  :(.

 

Lantai 2 dan 3 tidak banyak berubah. Gedung A ini memang digunakan untuk tahanan high officer.

Gedung A
Kamar Penyiksaan
Foto Korban Yang Ada di Salah Satu Dinding

 

 

Di gedung B, ada semacam display yang memajang foto-foto korban. Jumlahnya ratusan, ribuan, ntahlah 🙁 .Yang pasti merasa miris saat  melihat wajah-wajah mereka yang ntah tahu atau tidak, akan meninggal setelahnya. Dewasa, orang tua, wanita, anak-anak….

 

Pasukan Khmer Rouge tak pandang bulu menghabisi korban. Kenapa anak-anak? Salahnya di mana? Karena sesuai prinsip mereka, take out the grass till the root.. Secara, bagi mereka tidak ada untungnya  memelihara anak-anak tersebut, dan untuk menghindari balas dendam yang mungkin akan mereka lakukan setelah dewasa nanti… Insane 🙁

Sebagian Kecil Foto-Foto Korban
Para Korban

 

Gedung selanjutnya, masih dipamerkan beberapa lukisan cara pembantaian yang dilakukan oleh pasukan kejam ini. Kuku si korban dicabut, lalu dituang cairan asam. Mata mereka ditutup sementara kaki dan tangan diikat, lalu tenggorokan mereka disayat.

 

Ada juga lukisan yang menggambarkan korban digantung naik turun hingga hilang kesadaran, lalu dimasukkan ke dalam air kotor dan bau supaya sadar kembali. Tapi yang lebih sadis, lukisan bayi yang kedua kakinya dipegang, sementara si eksekutor menghantamkan kepalanya ke batang pohon besar. Itu bener-bener d.i.l.u.a.r.b.a.t.a.s.k.e.m.a.n.u.s.i.a.a.n. 🙁

Lukisan Yang Menggambarkan Bagaimana Mereka Membunuh Bayi
Cara Mereka Memotong Tenggorokan Korban
The Gallows
The Gallows, Alat Olahraga Para Siswa Yang Diubah Menjadi Tiang Untuk Menyiksa

 

 

Gedung selanjutnya berisi alat-alat yang dipakai untuk menyiksa. Kapak, linggis, pisau, golok dan benda-benda tajam lain. Mereka tidak mau menggunakan pistol, karena peluru mahal harganya. Karena itu senjata-senjata yang murah, mudah didapat tapi mematikan, yang dipakai untuk menyiksa  korban.

 

Ada juga kotak-kotak kaca yang berisi tengkorak, dan  baju-baju bekas tahanan. Kalau dilihat tengkoraknya, ada banyak yang terlihat garis retakan ato bekas pukulan kampak di kepala… Seram, sadis.. 🙁

Alat-Alat Yang Dipakai Membunuh
Ruangan Untuk Mendoakan Para Korban

 

 

Aku juga masuk ke dalam gedung yang berfungsi sebagai penjara, dengan ukuran yang jauh lebih sempit. Dalam 1 ruangan itu, dibangun sekat-sekat yang berukuran kurang lebih 1m x 1.5m. Tidak ada bantal, apalagi tempat tidur. Tahanan hanya bisa duduk di lantai yang keras, sementara kakinya dirantai supaya tidak bisa melarikan diri.

 

Menurut pengakuan salah satu eksekutor , segala macam benda-benda yang dianggab bisa dipakai untuk bunuh diri, tidak boleh diberikan kepada tahanan. Seperti pulpen yang bisa dipakai untuk menusuk urat nadi, bahkan baju dianggab bisa dipakai untuk menggantung diri. Karena itu hampir semua tahanan tidak memakai baju.

Bilik Penjara Yang Sempit

 

 

Di lantai atas, aku  membaca beberapa pengakuan eksekutor atau orang-orang yang direkrut oleh Polpot untuk menyiksa tahanan. Sebagian besar dari mereka saat itu masih berusia 13-25 tahun. Amat sangat muda untuk mulai menyiksa dan membunuh sesama manusia 🙁 . Mereka mengaku dipaksa, atau mereka yang akan mati. Tidak ada pilihan samasekali. Membunuh, atau dibunuh….

Merekalah Bekas Para Eksekutor
Mereka Juga Dipaksa Bekerja Untuk Polpot

 

 

Yang menarik saat menonton film dokumenter. Dari peristiwa pembantaian massal ini, hanya ada 7 korban yang selamat. Dan sekarang usia mereka sudah lumayan tua. Tapi beberapa masih bisa memberikan kesaksian tentang kejadian mengerikan yang mereka alami.

 

Di film terlihat 2 korban yang selamat menangis, melihat bekas gedung sekolah tempat mereka disiksa. Saat dipertemukan dengan beberapa eksekutor, korban bertanya dengan sedikit emosi, kenapa mereka mau menuruti semua perintah regime Khmer Rouge. Kenapa mau membunuh bayi, anak-anak dan sekaligus memperkosa wanitanya. Kenapa segitu gampangnya pasukan Khmer mencuci otak mereka.

 

Dan jawaban beberapa eks eksekutor ini, seperti yang telah aku tulis di atas. Pilihannya hanya dibunuh atau membunuh. Pasukan Khmer mengatakan tahanan itu adalah musuh Angkor. Jadi istri dan anak-anaknya otomatis juga pengkhianat Angkor. Para eksekutor  dicuci otak kalau membunuh atau memperkosa pengkhianat bukan suatu kesalahan.

 

Begitu cara pasukan Khmer mem-brain washed mereka. Si korban yang juga seorang pelukis samasekali tidak puas dengan jawaban itu. Tapi akhirnya dia terlihat pasrah. Semuanya toh sudah terjadi. Dan lukisan-lukisan yang banyak terlihat   dalam gedung, ternyata sebagian besar hasil coretan tangan beliau. Pantes saja dia bisa menggambarkan secara detil tentang peristiwa genocide ini.

 

Para eksekutor juga menjelaskan secara rinci bagaimana mereka mengawasi para tahanan, menyiksa, memperkosa wanita, dan memaksa tahanan  untuk mengakui sesuatu yang sebenernya mereka tidak tahu samasekali. Hampir semua tahanan mau dipaksa mengaku hanya supaya tidak disiksa lebih lama. Padahal, mengaku atau tidak, mereka toh akan dibunuh pada akhirnya :(.

 

Yang lebih sedih, saat diceritakan bagaimana para tahanan  dipindahkan dari Tuol Sleng ke Choeung Ek untuk dihabisi. Mereka ditutup matanya, dipisahkan antara wanita, pria dan anak-anak. Eksekutor membohongi para korban dengan mengatakan kalo mereka semua akan  dibawa ke rumah baru.

 

Namun sampai di sana para korban disuruh berjongkok, lalu dari belakang dipukul dengan keras punggung dan kepalanya, tenggorokan dipotong, dengan tujuan agar tidak berteriak, lalu dilempar ke tanah yang telah digali. Tapi sebelumnya baju-baju tahanan yang tidak terkena darah akan dilepas, ntah untuk tujuan apa. Selanjutnya untuk memastikan para korban telah mati, mereka akan menaburkan semacam bahan kimia yang berfungsi menghilangkan bau-bau menyengat dari mayat korban, dan memastikan korban akan benar-benar meninggal. Dan tanah yang telah digali itulah yang menjadi kuburan massal mereka.

 

Selesai menonton film dokumenter, kami turun ke bawah, dan berdoa sebentar di depan kuburan 14 korban terakhir Tuol Sleng, lalu berkenalan dengan 2 orang korban hidup yang ada di film tadi. Mr Chum Manh dan Mr Bou Meng. May God bless them. Beda rasanya mendengar sejarah diucapkan langsung oleh mereka yang pernah merasakan.

Chum Manh, Salah Satu Korban Yang Selamat
Bou Meng, 1 of 7 Survivors

 

 

KILLING FIELD – CHOEUNG EK

Keluar dari Tuol Sleng, kami mengarah ke ladang pembantaian Choeung Ek, yang terletak di pinggiran kota. Jalan kesana sangat berdebu, memakan waktu sekitar 30 menit kurang. Tiket masuk ke Killing Field Choung Ek,  USD 3 per orang.

 

Khusus untuk Killing Field, aku prefer menceritakannya lewat foto-foto yang diambil.

Killing Field-Choeung Ek

 

 

 Ini bagian depan dari Killing Field. Luas tempat ini sekitar 2 hektar. Begitu masuk ke dalam, pengunjung  langsung membayar tiket, dan akan mendapat 1 set audio penjelasan tentang tempat ini. Bisa memilih bahasa yang diinginkan, Inggris, Melayu, Perancis, Jepang dll. Sayangnya bahasa Indonesia tidak ada ..

 
Bekas Kuburan China

 

Sebelum menjadi tempat pembunuhan massal, tempat ini dulunya pernah menjadi komplek perkuburan China. Beberapa bekas kuburannya masih terlihat di beberapa area.

Truk Pembawa Tahanan, Stop Di Sini

 

 

Tempat ini dulunya pemberhentian truk yang membawa para tahanan untuk dieksekusi di Choeung Ek.

 

Tempat Para Tahanan Ditahan Sebelum Akhirnya Dibunuh
Tempat Penyimpanan Bahan-Bahan Kimia

 

Masih inget bahan-bahan kimia yang dipakai untuk mengurangi bau mayat dan memastikan tahanan benar-benar meninggal? Di sinilah bahan-bahan itu disimpan.

 

Mass Grave

 

Kuburan ini berisi 450 mayat. Kuburan massal terbesar yang ditemukan di Choeung Ek.

 

Foto Yang Diambil Saat Pembongkaran Kuburan Massal Tahun 1980an
Dan Ini Mass Grave Tempat Di Mana Mayat-Mayat Tanpa Kepala Dikubur
Kuburan Massal Wanita & Anak-anak.Kebanyakan Mereka Naked 🙁
Tumpukan Baju-Baju Korban
Lubang-Lubang Ini Juga Kuburan Para Tahanan, Dalam Bentuk Yang Lebih Kecil
Inilah Pohon Yang Digunakan Untuk Membunuh Bayi & Anak-anak
Magic Tree

 

 

Magic Tree, pohon ini besar. Di atasnya  pernah tergantung loudspeaker yang dinyalakan dengan volume maximum. Tujuan untuk apa? Supaya teriakan para tahanan yang sedang disiksa dan dibunuh, tidak terdengar keluar dari Killing Field. Merinding saat mendengar suara nyanyian wanita melengking yang dipasang di pohon ini. Orang luar yang mendengar akan mengira ada acara di Choeung Ek.

Gigi Para Korban Yang Ditemukan
Piece of Bones
Monumen Penghormatan Untuk Korban
Tengkorak Wanita Berumur 60an Tahun

 

 

Di dalam monumen penghormatan, orang-orang  bisa melihat banyak sekali tengkorak yang dipisahkan berdasarkan kelamin dan umur. Seperti foto di atas, ada tengkorak wanita berumur 60an tahun keatas, ada juga pria berumur 20-40 tahun. Sedih melihatnya… :(. Aku juga sempat melihat barang-barang seperti anting emas kecil kepunyaan seorang anak yang juga menjadi korban…

Tempat Mendoakan Para Korban
Polpot

 

 

Dan inilah wajah orang nomor 1 yang bertanggung jawab terhadap semua kebiadapan di Phonm Penh (1975-1979). Polpot yang dulunya pernah menjadi seorang guru, meninggal dalam pengasingan, dan kuburannya terlihat tidak terurus.

 

  Keluar dari Killing Field, rasanya  masih terbayang semua gambar, foto, cerita dan lagu-lagu sedih yang diputar :(.

 

 

 

WAT PHNOM – PNOM PENH

 

Tujuan wisata Pnom Penh selanjutnya, WAT PHNOM. Komplek kuil yang tidak begitu besar, dan pengunjung saat itu juga ga ramai samasekali. Tiket masuk hanya USD 1 per orang. Lumayan murah.

 

Jujurnya sih, karena aku kurang suka melihat kuil, jadinya ga begitu lama mampir kesini. Hanya melihat bagian depan, lalu masuk kedalam di mana ada patung Budha dengan ukuran sedang, lalu selesai ;p

Wat Phnom

 

Lunch time, mampir ke Hotel and Bar Cafe, yang menyediakan roasted chicken and french fries. Dari gambar sih menggoda yaa. Ayamnya gueedee pula. Harga per porsi USD 3.9  gratis Coca Cola.

 

Aku  beli 3 porsi,  untuk Pheak juga tentunya. Tapi begitu dicicip, rasa…… hambar beib hahahah….hufftt. Ga doyan samasekali. Sambel botolannya juga nihil pedas ;p. Ngabisin kentang doang deh 🙁

Ayam Pangang + Kentang

 

Dan, selesailah tur kami sesiangan ini. Biaya yang dikeluarkan untuk Pheak sekitar  USD 25, mungkin sedikit mahal, tapi at least 2 tempat yang aku idam-idamkan dari dulu, Tuol Sleng dan Choeung Ek, sudah kesampaian diliat.

 

Tempat-tempat lainnya aku anggab bonus. Siang itu, kami kembali ke hotel, istirahat, sebelum keluar lagi malamnya untuk dinner ^o^

 

 

 

STREET FOOD DINNER

 

Ga terasa, saking capek keliling tadi siang, aku ketiduran ampe jam 8 malam. Untungnya ga begitu jauh jalan kaki cari-cari tempat makan halal,  ketemu tenda yang menjual  seafood ^o^, dan orang-orang yang makan rameeee bangettt.

 

Tapi diperhatiin, lokal semua. Ga ada bule-bule atau turis gitu. Kami duduk, dilayanin dengan amat sangat ramah, dan dikasih menu yang berbahasa Inggris. Raka pengen kerang rebus, udang rebus, ikan pari bakar, dan ikan sabak panggang spesial. Plus 2 nasi, 2 coca cola dan sambel pedas yang boleh nambah sepuasnya ^o^

 

Note: aku ga tau ikan Sabak itu apa, yang pasti nih ikan ukurannya lumayan besar, daging tebal dan manis, trus durinya udah dicabutin. Jadi pembeli bener-bener enak dan gampang menikmati dagingnya sampai habis ;p

 

Gosh, ini makanan TERENAK yang aku coba selama di Kamboja. Sambelnya pedes, ikan pari lumayan gemuk, begitu juga ikan Sabak. Porsi udang  dan kerang rebus cukup banget untuk 2 orang, dan biaya semuanya, hanyaaaaa USD 14 !!!!

 

Makan ikan Pari di Jakarta mah, udah habis ratusan ribu sendiri.  Sayangnya kami lupa membawa HP atau kamera saat itu. Karena mikirnya mau makan malam cepat-cepat trus langsung balik  hotel lagi. Jadi foto-foto makanan ga ada.

 

Puass…puas…dan kenyanggg ^o^.  Sial sih kami  baru nemuin  tenda seafood seenak ini di malam terakhir di Phnom Penh ;p.

 

SUMMARY

 

So overall, lepas dari cuacanya yang panas membakar dan kering, serta bikin pusing bagi yang tidak  kuat, Kamboja negara yang penuh dengan sejarah, indah dan murah. Penduduknya bisa dibilang amat sangat ramah. Samasekali ga terlihat kalau negeri ini suatu masa dulu pernah sangat brutal menghabisi saudaranya sesama Kambodian.

 

Bahasa Inggris adalah bahasa yang banyak dipakai di sini. Even anak-anak banyak yang mengerti, walopun aksen mereka ga begitu jelas ;p.

 

Mata uang Kamboja adalah Riel, tapi sehari-hari, USD adalah currency yang paling sering dipakai (USD1 = Riel 4000). Biarpun begitu, harga barang dan makanan di sana terbilang masih murah. USD yang kubawa pun masih banyak tersisa sepulang dari sana.

 

1 hal yang bikin bingung, sebelum ke Kamboja, aku sempet membaca dari salah satu blog (sayangnya lupa link), kalau di Kamboja turis  harus membayar Airportax seperti di Indonesia. Jumlahnya untuk penerbangan International USD 25. Tapi sampai di bandara Phnom Penh International kemarin, kami  samasekali tidak  diminta untuk bayar apapun. Bagus juga sih kalau aturannya  sudah dihapus ;p

 

Masih tertarik datang ke Kamboja? 😉 Aku sendiri masih pengen banget visit kota-kota lainnya. Next time, I will 😉

 

 

Tips:

Karena datang di saat musim kemarau yang kering dan berdebu, aku sempet sakit, karena ga kuat dengan terik mataharinya. Jadi jangan lupa membawa obat sakit kepala, demam, batuk, dan radang tenggorokan. Minum banyak air putih is a must!! Bisa kena dehidrasi kalau  sampai kurang minum.

30 tanggapan untuk “MENGENANG KEKEJAMAN KHMER ROUGE, CAMBODIA”

  1. cumilebay.com berkata:

    Dibunuh atau membunuh ???? pilihan yang sulit 🙁

  2. Hera Fawistianaes berkata:

    yaALLAH.. smoga arwah para korban diterima sama tuhan asli makin ga mau k museum itu mbaa.. hahha bnyak bgt kpedihannya.. pantes warga kambojanya sendiri ga mau k situ,,,

  3. Noe berkata:

    Waktu di Phnom Penh, aku emoh ke Tuol Sleg & Killing Field. Tidaaak… Cukup tau dr cerita blogger lain aja, ngga mau liat lgsu g ke tkp. Gk tega 🙁

    Royal palace aja yg indah dan menyenangkan 😉

    Eh, nyobain makan seafood ngga di central market. Enaak loohh

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Justru yg ada sejarah kelamnya, apalagi sampe berdarah2, yg bikin aku pgn ksana mba :D.. Targetku slanjtnya pengen ke museum pembantaian Hitler nih.. justru museum2 yg biasa, yg hanya cerita sejarah, aku rada ngantuk kalo kesananya 😀

      g nyobain..kita cm blnja aja di sana ;p. telat bgt tau tempat2 makan enaknya…krn niat awal emg cm mw k museum s21 dan killing field 🙂

  4. dewi berkata:

    Ngeriii mak!

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      tp justru museum2 yg punya bnyk cerita berdarah di masa lalu yg slalu pgn aku dtgin… kalo cuma museum yg isinya ttg sejarah batik misalnya, waduh, aku ngantuk mba… 😀

  5. Keke Naima berkata:

    Kalau Khmer Merah kayaknya saya inget jaman masih kecil. Cerita ini cukup kuat diceritakan dimana-mana. Memang kejam banget, ya

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Aku malah tau ttg ini stlh baca buku trinity mba… itu yg bikin lgs kepengen dtg kesana ;)..akhirnya kesampaian ^o^

      • Eryka berkata:

        Kamboja ternyata sepanas itu ya mba..lebih panas drpd Indo brarti yaa…
        Baca cerita mb fanny jd merinding sendiri gak tega aku mbaaa hiksss kok ya ada yaaa orang setega itu..pasti para survivor nya itu mungkin tiap liat tempatnya jd trauma yaa…gak sanggup bayangin penyisaannya ☹️☹️

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Panas berdebu masalah nya mba. Jadi pasti sakit kalo ga kuat. Makanya kalo kesana lagi, better Dec atau Januari
          Lebih sejuk

  6. Avi berkata:

    Ikut sesakk bacanya Kaak. Aku gak kuat kalau diajak masuk ke sana. Hiks, itu apa gak seram bagian dalamnya dan jadi super spooky, atau ada yg gentayangan.

    Polpot sendiri apa gak dihukum atas kejahatannya?

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Dihukum mba, tapi cuma penjara dan diasingkan. Meninggalnya dlm pengasingan. Pengen bgt Dajjal begini dihukum mati yaa 😤

  7. Lala berkata:

    Ga tega banget ngebayangin gimana sakit dan menderita nya para korban kala itu 😭😭Serem pake banget. Ternyata diabadikan dan semua orang bisa dengan gamblang menerima details informasi dari S21 Museum.
    Beneran jadi belajar sejarah lagi nih terkait Kamboja, negara yang penduduk nya ramah-ramah, serta banyak tempat bagus yang bisa di kunjungi turis.
    Beruntung, bisa nemu tempat makan seafood yang enak dan ramah dikantong. Kebayang sedapnya makan ikan pari 🤩.
    Kalau ditanya mau ke Kamboja? Mauu banget, tapi ga bakalan kuat datang ke museum pembataian gitu, ngilu banget bayanginnya, apalagi liat secara langsung.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Aku juga ga saranin kalo ga kuat lihat begini, mending jangan mba. Krn bener2 menyayat hati BANGETTTT . Aku aja berusaha utk ga nangis di dalam. Apalagi liat foto2 pembantaian anak2 😭😭😭. Kok tegaaa gitu

  8. Tukang Jalan Jajan berkata:

    Kamboja ini punya sejarh kelam juga buatku sih, saat semua barangku hilang dirmpas dan tertahan di KBRIs selama seminggu. SUngguh pengalaman yang ngebuat aku beneran lemes dan aku juga kebeberapa tempat kejahatan khmer diajakin orang KBRI cman udah lemeeesss huhuhuhu

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Ya ampuuun mas dodon . Kenapa bisa dirampas? Itu yg ngerampas KBRI atau gimana ceritanya??

  9. ariefpokto berkata:

    Museum seperti ini memang perlu dikunjungi dipelajari dan juga dilestarikan karena merupakan bagian dari sejarah hitam yang Jangan sampai terulang dengan melihat dan juga memahami sejarah dari aneka macam benda yang ditampilkan di sini tidaknya orang-orang berpikir jangan sampai kejadian-kejadian yang seperti ini terjadi lagi di dunia

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Setuju mas. Negara yg hebat, adalah negara yg orang2nya mau mengingat sejarah kelam sekalipun. Mereka jadikan museum supaya tahu bahwa dulu mereka nyaris hancur Krn perang saudara. Jadi jangan sampai terulang lagi

  10. Dawiah berkata:

    Lihat genosida pada rakyat Gaza di mana tidak diberitakan penyiksaan sesadis itu (semoga tidak) rasanya pingin marah, sedih, kecewa. Pokoknya campur aduk deh, apalagi mengetahui penyiksaan yg tidak berkeprimanusiaan seperti yg dilakukan pasukan Khmer. Ini sih betul-betul biadab namanya, dan saya tidak akan sanggup melihat itu semua sekalipin hanya foto2nya.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Pasukan Khmer ini memang biadapnya dah level iblis. Karena yg mereka bantai , adalah saudara sendiri, sama2 orang Kamboja. Itu yg aku ga habis pikir 😔

  11. Sabrina berkata:

    ke Cambodia tahun 2012 apa 2013 kalau ga salah, hanya mengunjungi yang Killing Field sampai disana saja auranya udah beda banget mba Fan, ga kuat berasa lihat kejadiannya nyata, dan kayaknya temanku sempat ajak ke museum pembantaian itu tapi ga mau mungkin itu ya S21 museum itu, ga tahan dengar ceritanya. Apalagi melihat tempat asli pembantaiannya ngeri banget. Baca ini aja rasanya lemas mba Fan, untung aja waktu itu ga kesana, tapi kalau banyakan lihat museum sejarah begini ga ngeri juga kali ya

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Iyaa museumnya s21 itu mba.

      Bagi yg ga kuat memang jangan..Krn vibe nya negatif bangettt. Aku aja berusaha ga nangis selama di sana. Saking sedih liat semua foto dan lukisan 😭. Ga kebayang kengeriannya kayak apa. Apalagi denger suara musik yg dipasang dipohon. Merinding aku

  12. lendyagassi berkata:

    Kangen sama tulisan ka Fanny mengenai wisata sejarah begini.
    Waktu jalan-jalan didampingi sama guide kah atau ka Fanny googling mandiri?

    Serem pas tau sejarah mengenai masa-masa itu.
    Tapi dari kisah pilu ini, negara dan pemerintahan banyak belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Aku tau museum ini Krn baca buku mba trinity traveler mba. JD kami kesana sendiri ga pake guide..cuma oesen driver Tuktuk aja buat nganterin kemana2..Kamboja gampang dieksplor kok 😄👍

  13. Dedew berkata:

    Butuh nyali gede untuk masuk dan mempelajari isi museum ini deh, tapi hikmahnya juga banyak kita jadi say no to war yang menyengsarakan rakyat

  14. Dedew berkata:

    Butuh nyali gede untuk masuk dan mempelajari isi museum ini deh, tapi hikmahnya juga banyak kita jadi say no to war yang menyengsarakan rakyat ya sedih..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About Me

Fanny Fristhika Nila

Email: fannyfristhika@gmail.com

My Twitter: @f4nf4n

Lihat profil lengkapku

Follow Me

Subscribe Tulisanku


Delivered by FeedBurner

Archives

«

About Me

Fanny Fristhika Nila

Email: fannyfristhika@gmail.com

My Twitter: @f4nf4n

Lihat profil lengkapku

Follow Me

Subscribe Tulisanku


Delivered by FeedBurner

Archives

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.