D'Cat Queen

Because Travelling is not just a passion, it is a life need!

MENU

Sep 2023

15

WISATA MELAKA: MUSEUM BABA & NYONYA HERITAGE

WISATA MELAKA: MUSEUM BABA & NYONYA HERITAGE ~ Trip Melaka ini aku lakuin bareng teman, Fara & Aling awal Juni kemarin. Mau mulai setor tulisannya 1-1 supaya draft blog bisa kosong πŸ˜‚.

 

Nah, salah satu tempat wisata di Melaka, yang kami bertiga excited banget mau datangin, itu Museum Baba Nyonya Heritage. Bagi yang suka sejarah, jangan pernah melewatkan museum ini dari ITIN, karena worth it sangat untuk divisit.

Mungkin ada yang bingung, apa sih Baba Nyonya itu.. 😁. Pas cerita di IG stories, aku juga berulang kali sebut ‘Baba Nyonya’ atau ‘makan laksa Baba Nyonya’πŸ˜„

 

Baca: Mencoba Aneka Laksa Di Jonker 88

 

Jadi gini say 🀭, awal cerita…abad ke 15 itu banyak banget pedagang China, Arab dan India, datang ke Singapur, Melaka dan Penang. Beberapa di antara mereka ada yang menikah dengan wanita lokal, dan anak-anak yang dilahirkan disebut PERANAKAN.

 

Ada peranakan India, peranakan Jawi, dan peranakan China.

 

Baba itu sebutan kehormatan untuk laki-laki peranakan, artinya Tuan, sementara yang jadi istrinya , disebut NYONYA, artinya lady 😁. Sampai sini jelas yaaa 😘

 

fotografer foto diri dulu sebelum motretin NYONYA ;p

jonker street melaka

 

Sebelum ke museum, Aling sengaja sewa kostum peranakan supaya makin menghayati sejarah😁

sewa kostum peranakan di melaka

 

iyeees guys, dia sampe totalitas mau foto2 di museum wkwkwk

di mana sewa kostum baba nyonya di melaka

 

 

 

TIKET MASUK MUSEUM BABA NYONYA HERITAGE MELAKA

 

Sebenarnya sih ga mahal-mahal amat entrance fee nya.

Dewasa: Rm16

Anak-anak 5-12 tahun: Rm11

 

Kalau mau lebih murah, bisa cari di KLOOK atau traveloka, atau OTA manapun yang menjual lah.

 

Kami bertiga prefer beli di tempat.

 

ruangan depan yang pertama dilewati

museum sejarah menarik di melaka

 

 

Sebenernya sempat ada tur guide yang bisa disewa dengan harga tertentu, tapi saat kami datang sudah tidak ada. Sebagai gantinya staff di sana memberikan semacam buku panduan yang jelas banget, untuk pengunjung paham saat melihat aneka barang peninggalan di sana.

 

Tapi cuma dalam bahasa Inggris yaa 😁

 

staff museum yang menjelaskan aturan do’s and don’ts dalam museum. Foto boleh tapi ga bisa pakai flash

tempat wisata sejarah di melaka

 

 

 

 

JAM BUKA MUSEUM BABA NYONYA HERITAGE MELAKA

 

Museum ini hanya TUTUP di hari Senin. Selebihnya buka dari jam 10.00 – 17.00 waktu Malaysia.

 

aling mulai beraksi πŸ˜€

museum sejarah peranakan di melaka

 

 

 

SEJARAH MUSEUM BABA NYONYA HERITAGE MELAKA

 

Museum peranakan heritage yang kami visit ini, kebetulan dari klan keluarga CHAN, yang sudah ada di Melaka sejak tahun 1861. Udah lama bangetttt. Bisa dibilang ini orang kaya lama cuy 😘. Ga ngadi-ngadi kekayaannya.

 

Awalnya dari Chan Cheng Siew, dia punya perkebunan Gambir, semacam tumbuhan buat obat. Tapi mungkin karena Gambir ga terlalu menghasilkan yeees, diswitch deh itu perkebunan , jadi kebun karet. Chan Cheng Siew sering dipanggil ‘Towkey Cermin Mata’ , karena dia pakai kacamata 😁.

 

Naah jadi rumah museum yang kami masukin ini, furniturenya mostly kepunyaan Chan Cheng Siew ini. Masih terawat bangetttt loh sampai sekarang πŸ‘πŸ‘.

 

Keluarga Chan

museum di melaka

sejarah keluarga peranakan di melaka

 

 

Sayangnya, dia meninggal muda usia 54 di tahun 1919. Ga dikasih tahu kenapa meninggal.

 

 

 

SILSILAH KELUARGA CHAN

 

Chan Cheng Siew punya istri, namanya Chee Gee Geok Neo. Dia juga dari keluarga peranakan kaya. Karena badannya gemuk, sering dipanggil Mak Gemok.

 

Dari keduanya lahirlah anak cowo, semata wayang pulak, dikasih nama Chan Seng Kee yang ketika besar, dijodohin dengan wanita peranakan dari keluarga kaya pengusaha bumbu kari, bernama Hoo Joo Suan.

 

Ini mah, udah lah keluarga cowo kaya raya, si cewe juga tajir, makin melintiiiir yang ada kekayaan keluarga Chan 😍😁.

 

Anyway, Chan Seng Kee x Hoo Joo Suan, punya anak 8 orang. Ga mau pakai kontrasepsi mereka 😁, masih menganut banyak anak, banyak rezeki ya tsaaaay 🀭.

 

dekorasi jendela di keluarga chan

sejarah keluarga peranakan

 

 

 

MAKNA FURNITURE DALAM RUMAH PERANAKAN

 

Soal bahasa nih, orang- orang peranakan, ngomongnya nyampur aduk. Soalnya kan nikah campur dengan orang lokal melayu. Bahasanya sering disebut BABA MALAY.

 

Mix antara hokkien dan bahasa Melayu.

 

Cumaaaan, mereka tetep menjaga tradisi Chinese. Mulai dari perabotan rumah, sangaaat berbau Chinese banget.

 

Contohnya, segala sesuatu di ruangan harus teratur, balanced , dan perabotan mesti dalam kelipatan 2 jumlahnya. Pamali kalo ganjil. Jangan tanya kenapa 🀣. Biar pasangan kali. Ga jomblo πŸ˜…

 

salah satu sudut ruangan yang mana segalanya harus kelipatan 2

tempat wisata di jonker melaka

 

 

Aku tuh sebenernya nyeseeeel baca sejarahnya malah pas terakhir keliling rumah. Jadi banyak beberapa spot yang ga difoto. Ternyata menarik history mereka. πŸ‘

 

Di bawah ada gambar ruangan, di mana NYONYA cuma bisa kluar sampai batas ruangan ini tanpa ditemani. Lewat dari sini wajiiiib ada yang ngawal. Sama aja kayak cerita kerajaan China, Korea, Arab, wanita bangsawan biasanya ga boleh kliatan mukanya.

 

Kalo semisal mereka mau tahu apa yang sedang terjadi di luar, di pintu ada celah supaya bisa melihat.

 

wisata sejarah di melaka

 

 

Bagian luar rumah peranakan biasanya tergantung lentera. Yang mendeskripsikan family business. Jadi di lentera itu ada tertulis informasi nama pemilik keluarga, bisnisnya apa, jadi orang yang lewat tau itu rumah punya siapa , dan pemiliknya kerja apa. Kayak alamat rumah jadi yaa 😁

 

Karena saat itu belum ada listrik, supaya kebaca pas malam, lentera ini dinyalain pake lilin.

 

Lentera yang dipasang di depan rumah

sejarah peranakan melaka

 

 

 

MAKNA SPOT TERBUKA DI DALAM RUMAH

 

Saat masuk ke dalam, tidak jauh dari ruangan depan, ada 1 spot yang mana atapnya terbuka. Awal-awal aku sempat kepikir, ini kalo hujan piyeee…πŸ˜…

 

bagian dalam rumah yang atapnya terbuka

tempat wisata di melaka

 

Aling berfoto di area courtyard

sejarah melaka

 

 

Tapi ternyata memang disengaja, karena hujan yang jatuh di area Courtyard, akan mendinginkan ruangan dan membawa rezeki ke seluruh rumah. Termasuk ventilasi udara jadi bagus.

 

Yang paling keren, bagian tangga dari rumah. Karena ga pake paku cyiiiin 😍😍. Ini terkait kepercayaan orang peranakan kalo paku hanya dipakai saat mereka meninggal nanti, untuk makuin peti mati. Tapi di rumah ga boleh.

 

Tangga rumah melambangkan 8 immortal, atau 8 kondisi kehidupan: kemiskinan, kekayaan, aristokrat, kelas pekerja, umur, remaja, maskulin dan feminim.

 

tangga rumah di museum heritage

tempat wisata sejarah di melaka tempat wisata melaka

 

 

 

 

BUDAYA MENIKAH ORANG PERANAKAN

 

Foto di bawah adalah kamar mereka. Sempet dipakai oleh Chan Cheng Siew dan istri, lalu diturunkan ke Chan Seng Kee dan istri.

 

Ketika menikah, perayaan yang dilakukan keluarga peranakan biasanya sampai 12 hari pesta! Upacaranya sendiri bakal dipimpin seorang wanita yang lebih tua dalam keluarga.

 

wisata keluarga di melaka

 

 

Sebelum menikah, tempat tidur bakal dikasih hiasan dulu, dibersihin pake dupa India, namanya Stangee.

 

Trus bakal ada anggota keluarga laki-laki yang muda atau masih anak-anak untuk berguling bolak balik di atas tempat tidur, 3x. Ini ritual untuk mendoakan pasangan supaya punya banyak anak, dan moga-moga sih anak pertama cowo πŸ˜„.

 

Dalam kamar di museum ini, ada sepasang patung yang memakai baju nikah. Ini kostum nikahan keluarga CHAN yang dipakai dulu. Style baju pengantin wanita mengikuti Qing dinasti, dan Ming Style dynasti buat baju pengantin cowo.

 

model baju pengantin keluarga Chan

wisata sejarah melaka

 

Foto pernikahan Chan Seng Kee & hoo joo suan

sejarah peranakan melaka wisata sejarah melaka

 

 

 

 

HAL LAIN YANG MENARIK DAN UNIK DARI PERNIKAHAN ORANG PERANAKAN

 

Ada upacara menarik dari tradisi menikah peranakan, disebut upacara CHUN TOK.

 

Ini upacara makan pertamakali pengantin sebagai suami istri.

 

Di bawah meja, kalo si pengantin laki-laki bisa meletakkan kakinya di atas kaki istri, berarti dia sebagai master of the house.

 

Tapi kalo kaki pengantin wanita yang ada di atas kaki suami, berarti dia berhak bikin aturan jadwal rumah 🀣. Seru juga, aku pasti berusaha buat menang kalo ada games begini ama Raka 🀣🀣🀣.

 

Selagi makan, ada 2 lilin di meja makan. Satu melambangkan usia pengantin lelaki, 1 nya lagi usia pengantin wanita. Selama mereka makan, lilin siapa yang hidup lebih lama, berarti dia yang umurnya lebih panjang.

 

Tapi pada kenyataan, supaya ga bikin down salah satu, pihak keluarga sepakat meniup lilinnya barengan, supaya si pengantin sehidup semati πŸ˜„.

 

lilin yang melambangkan umur pengantin

tempat menarik di melaka

 

RUANGAN LAMBANG KELAHIRAN DAN KEMATIAN

 

Di museum ini juga ada ruangan yang melambangkan kelahiran dan kematian.

 

Jadi kalo ada yang ulang tahun, akan dirayakan di RUANG KELAHIRAN. Pake mie (lambang panjang umur), kue bola-bola ketan manis (lambang kebahagiaan hidup), dan telur (sebagai tanda kesuburan).

 

Di dinding dalam ruang kelahiran, ada semacam baju yang dipajang, itu hadiah buat MAK GEMOK pas ultahnya dulu. Tradisi angpaw juga ada, jadi yang ultah bagi-bagi uang buat para cucu dan sodara yang datang.

 

ruang kelahiran dalam museum keluarga chan

sejarah museum heritage peranakan melaka

 

aneka kue di saat hari kelahiran

sejarah peranakan museum heritage melaka

 

 

Beda lagi ruangan kematian.

 

Warna yang melambangkan FUNERAL, bagi orang peranakan adalah BIRU GELAP. Jadi kue yang disajikan saat pemakaman warnanya harus biru putih.

 

Kalo ada yang meninggal, di luar rumah bakal dipasang lentera khusus, supaya orang-oranh lewat tahu bahwa master of the house sudah berpulang.

 

Upacara pemakaman kaum peranakan wajib ganjil harinya. Minimal 7 hari, maksimal 31 hari. Makin kaya, ya makin lama.

 

lentera kematian yang dipasang

museum sejarah di melaka

 

ruang kematian di museum heritage baba nyonya melaka

sejarah orang peranakan

 

 

 

HIBURAN PARA NYONYA DI RUMAH

 

Berhubung NYONYA jarang keluar rumah, supaya ga bosen, biasanya mereka ada hiburan sendiri, main mahjong 😁. Atau cherki.

 

Di rumahnya ada sudut buat main tuh. Cherki mirip ama mahjong, tapi agak lebih simple caranya. Ga usah tanya gimana, jangankan cherki, mahjong aja aku ga paham gimana cara main 🀣.

 

tempat nyonya bermain mahjong

permainan mahjong keluarga peranakan sejarah keluarga peranakan melaka

 

 

 

TRADISI MAKAN PARA KAUM PERANAKAN

 

Ruang makan peranakan biasanya pakai meja panjang. Disebut TOK PANJANG. Tok means meja (Bahasa hokkien). Panjang ya berarti panjang dari Bahasa Melayu. Jangan lupa bahasa mereka mix hokkien dan Melayu.

 

Keluarga CHAN udah pasti panjang mejanya, anaknya aja 8 geeees 😁.

 

meja panjang tempat keluarga chan makan

tradisi makan keluarga peranakan

 

sebagian piring yang digunakan

budaya kaum peranakan malaysia

 

 

Naah mereka ini boleh makan pake tangan seperti Melayu, tapi ada juga yang makan pakai sendok garpu, mengikuti style bule.

 

Makan malam jam 7, dan semua anggota keluarga diwajibkan turun jam segitu. Menu makanannya sendiri ya model peranakan.

 

Contohnya: itek tim (sup bebek) , ayam atau babi kuah kluwek, babi pong teh, sambel belacan, atau chinchalok ( udang fermentasi). Jadi ga pure menu Chinese lagi.

 

Trus piring yang digunakan biasanya porselin. Mereka sukaaa banget pake piring porselin dengan berbagai motif.

 

Kalo motif colorful (Shanghai porcelain) biasanya dipake pas perayaan.

 

Sementara untuk pemakaian sehari-hari, motifnya bunga-bunga, biasanya British motif, mix dengan motif kapal Chinese.

 

Untuk warna sendiri, porcelain berwarna biru putih, hanya untuk pemakaman. Ga boleh dipake daily beeeib, apalagi acara spesial 🀣. Pamaliiiii.

 

 

 

PERALATAN DAPUR WAJIB ADA DI RUMAH KELUARGA CHAN

 

Dapurnya luaaaaas banget 😍😍. Kamar ku aja kalah 🀣🀣. Dan peralatan yang mesti ada, pertama cobek batu. Soalnya mereka suka banget sambel belacan.

 

cobek batu keluarga chan

alat dapur keluarga peranakan

 

 

Trus di rumah keluarga CHAN ada putu Mayam maker. Ini karena Joo Suan suka banget kue putu.

 

alat dapur keluarga peranakan

 

 

Terakhir ada alat bikin es krim. Es krim zaman dulu hanya buat orang kaya doang. Jadi rata-rata keluarga peranakan pasti ada alatnya sendiri

 

ice cream maker

peralatan dapur kaum peranakan

 

ice box, alat untuk mendinginkan makanan sebelum ditemukan refrigerator

alat dapur zaman dulu pengganti kulkas

 

 

 

Faktanya, rumah peranakan yang di Melaka ini, ternyata masih dianggap kecil ukurannya. Karena di Penang ada rumah peranakan museum yang jauh lebih mewah dan besar lagi πŸ˜…πŸ˜. Padahal yang ini aja udah cakep bangetttt 🀣. Semoga kalau ke Penang lagi bisa melihat rumah peranakan lain, yang disebut BLUE MANSION

 

dapur keluarga chan

museum sejarah peranakan di melaka museum di melaka museum sejarah yang menarik di melaka

 

 

 

 

PENUTUP

 

Semua sumber tentang rumah peranakan heritage museum Baba Nyonya ini, aku dapat dari buku yang dipinjamkan petugas museum. Jadi kalo ada sesuatu yang salah, tolong dibenerin aja di komen yaa 😘

 

Yang pasti, museum ini sebenernya baguus banget buat didatangi. Segala sesuatu masih terawat dan aku bisa membayangkan seperti apa kehidupan megah keluarga Chan di zaman dahulu ❀️

 

potret keluarga chan generasi sekarang. banyak yang sudah menikah dengan orang asing

keluarga peranakan di melaka sejarah keluarga peranakan melaka

 

keluar dari museum, ALING foto dengan engkoh penjual minuman yang sering kita beli ;p

wisata di melaka

 

 

 

 

 

164 tanggapan untuk “WISATA MELAKA: MUSEUM BABA & NYONYA HERITAGE”

  1. NA berkata:

    Terperinci, setiap tempat dinyatakan fungsi dengan baik.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Makasiih kak Na. Sebisa mungkin saya mau teman2 yg baca seolah merasakan masuk ke dalam museum juga ☺️

  2. Citu berkata:

    Genial museo. Te mando un beso.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Thank you. This museum is quite interesting with all the furnitures that are still well maintained. Please come when you visit Melaka one day

    • Nona Sani berkata:

      Whoaa..Saya sendiri tak pernah masuk ke dalam ni.. Terima kasih sebab bawak jalan jalan dalamni..hehe.. Saya baca sampai habis 😍 Tertarik nak try tengok tengok museum ni.. Dulu pernah tahu sikit sikit tentang baba Nyonya no 😍

      • Fanny Fristhika Nila berkata:

        Makasiiiih kak πŸ˜πŸ˜„. Saya senang kalo teman2 merasa seperti diajak virtual melihat museum ini..Krn memang museum ini worth it sangat didatangi

  3. Puan Hazel berkata:

    Wah kita orang Malaysia belum pernah sampai museum ni. Terbaiklah Fanny πŸ‘
    Aling itu gayanya udah seperti orang peranakan juga, nampak Chinese look gitu πŸ™‚

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Dia memang peranakan kak πŸ˜„πŸ˜„. Makanya langsung totalitas pakai kostum waktu kesana. Yg di Penang dia pun sudah pernah, tapi kurang kostum. Makanya nak kesana lagi 🀣

      • Heni berkata:

        Baca tulisan mbk Fanny yg terperinci banget koq saya berasa lagi nonton film cina/ Jepang Oshin jaman”dulu ya πŸ˜€, liat isi rumah, dapur, segala peraltan masak, tempat makan,tempat permainan para wanitanya
        dan sebagainya masih tertata dan terawat, berasa kayak kebawa dalam suasana saat itu.
        Soalnya jarang bahkan hampir gak pernah ke tempat museum kayak gini di Indonesia,barangkali gak ada ,saya GK pernah tau juga.

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Di Indonesia ada mba, di Medan. Rumah Tjong A Fie. Tapiiiii aku malah belum datangin yg di sana, padahal kampung sendiri 🀣🀣🀣

          Kan selalunya gitu yaa, yg Deket malah lupa, yg jauh didatangin πŸ˜‚.

          Sama bagusnya yg di Medan juga. Sama2 peranakan kaya tuh

      • Purwantini Agustina berkata:

        Wah, terima kasih telah menuliskan perjalanannya. Menariiiik, Mbak.

        BGW setrika zaman dulu di bumi mana pun ternyata ya bgitu iya bentuknya.

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Hahahaha iyaa itu setrika legend banget ya Mbaa 🀣🀣. Kayaknya lama sih dipake. Apalagi bahan pemanasnya dari arang. Jadi ga semahal kalo pakai listrik..zaman dulu juga listrik blm merata banyak. Kayak nya mama ku pun punya πŸ˜„

      • Ariefpokto berkata:

        Kak, pas ke Melaka akupun kesini. Suasananya beneran mengesankan sih. Akulturasi budaya yang menarik. Sempet berasa di Rumah Tjong A Fie Medan. Mirip sih.

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Naaah Tjong a Fie aku bakal datangin kalo ke Medan nanti mas. Mau bandingin kayak apa bentuknya πŸ˜„

  4. Ujie Othman berkata:

    Hebat penulisan Fanny, sangat terperinci. Seperti ikut sama tour di sana πŸ˜€
    Saya terbayang babak cerita Little Nyonya sewaktu membaca entri ini.

    Ruang tengah yang kosong tu sama seperti di rumah Tjong A Fie, Medan.
    Tapi Blue Mansion di Penang, saya belum sampai 🀣

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Terimakasih sangaaat kak ujie 😍☺️. Tiap datang ke suatu tempat saya memang berusaha untuk menjelaskan rinci Krn ingin teman2 yg baca seolah ikut datang kesana.

      Saya pernah ke museum peranakan di Penang, tapi saya lupa namanya,, seingat saya bukan blue mansion Krn tak terlalu besar. Teringin juga pas di penang datang ke blue mansion. Itu pernah dijadikan lokasi syuting crazy rich kan

      • Sandra Hamidah berkata:

        Aku pun suka ke museum mba, apalagi klo di kota dan negara orang ya jadi biar oleh2 nya nggak cuma foto tapi ada ilmu dan sejarah baru dan itu menarik banget semoga bisa kesini juga deh akuu heheh

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Samaaa mba. Itu kenapa aku suka dengan museum. Apalagi yg terawat dan banyak informasi begini. Kalo interaktif lebih bagus lagi πŸ‘. Jadi ga akan bosen di dalam

  5. Helena berkata:

    Masya Allah … makasih udah diajakin virtual tour ke museum ini. Aku ke Malaka kenapa terlewat yah, apa ini di daerah yang dekat gereja merah atau beda lagi?

    masukin bucket list untuk ke sana plus sewa baju seperti temanmu. Menghayati banget lho Ci Aling, fotonya ga pakai senyum selama di museum kecuali di akhir dengan penjual minuman. hihi…

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Bukan yg Deket gereja mba. Ini beneran masih dalam jonker street nya. Kalo gereja kan agak diujung yaa. Lebih Deket dari hotel kami drpd gereja 😁.

      Ntr datangin lagi deh. Kalo dr hotel , kami jalan kaki aja, tinggal ikutin Gmaps . Tadinya aku pengen sewa, tapi mikirnya panas banget hahahahha.makanya Aling aja deh. πŸ˜„

    • Warisan Petani berkata:

      Pernah juga datang sini beberapa kali

    • Mugniar berkata:

      Waah menariknyaaa Mbak Fan.
      Didukung Traveloka pula ya jadi gak sulit merencanakan itin dari Indonesia ke museum baba nyonya ini. Waktu masih tinggal di Pekanbaru, saya pernah ke Melaka tapi gak ke mana2 sewaktu di sana, hanya jadi tempat nginap semalam lalu ke pelabuhan utk menyeberang ke Dumai.

      • Fanny Fristhika Nila berkata:

        Oalaaaah malah cuma transit ke dumai mba ?? Ini pasti zamannya airasia promo, tapi hrs mampir ke kota2 mereka dulu yaaa 😁. Soalnya aku pernah juga, mau ke Medan, tapi LBH murah klo transit di KL hahahahah

  6. Azhafizah Md Nor berkata:

    Banyak cerita dan juga gambarnya. Saya pun tak pernah lagi sampai sini. Bila pakai baju baba nyonya tu barulah dapat feel sejarah tu lagi kan. Bagus juga ye ambil kesempatan pakai baju kebaya nyonya tu. Rupa chinese look tu dah mirip. Gambar pun nampak lagi menarik. Terbaik fanny ceritakannya dengan terperinci lagi.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Teman saya memang ada darah peranakan juga kak, makanya dia niat banget nak foto pakai baju nyonyah πŸ˜„πŸ˜„. Saya ikut sajalah, nak foto dia bareng teman satu lagi 😁.

      Karena sejarahnya memang menarik, makanya saya bisa ceritakan ulang dengan feel yg masih lekat πŸ˜„β˜ΊοΈ.

  7. mz berkata:

    bagus entry ni sangat informative, banyak gambar2 yg sgt menarik!

  8. RAch Alida berkata:

    Aku senang banget ke Melaka, mba. Mungkin karen aaku suka sesuatu yang bernilai historis ya. Apalagi di kawasan Melaka ini semuanya masih terjaga rapi πŸ™‚

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Beneeer. Ntah kenapa Melaka ini agak mirip kota lama Semarang juga. Mungkin Krn banyak gedung lama kali ya mba. Dan masih terawat. Semarang kan juga terawat gedung lamanya πŸ‘. Selalu suka kita dengan vibe Oldies beginu

  9. Purwantini Agustina berkata:

    Memarik sekali, Mbaaak.

  10. mulan berkata:

    Thanks for sharing Fanny. Terang dan nyata semua yang diceritakan. Kena masuk dalam list, untuk tour di Melaka nanti.

  11. Eka Murti berkata:

    Aku malah gak sempet ke sini. Krn emang gak pake itin juga. Ujug2 pas sarapan ngobrol mau kesini situ dll. Pas dijalanin lebih banyak nongkrong santai πŸ˜‚. Keknya mesti balik lagi biar gak penasaran.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Aku aja mau banget balik lagi mba πŸ˜„. Soalnya Melaka memang menarik kok. Banyak tempat makan dan wisata. Cuma Krn niatnya santai, makanya kemarin ga banyak wisata yg didatangin. Ntr mau kesana ama suami deh. Jadi bisa banyak itinnya 😁. Kalo dia maunya udh teratur tempat2 yg divisit. Jadi ga bingung mutusin mau kemana

  12. Faizal R berkata:

    Chun Tok itu kalau tiada yang mengalah boleh terbalik mejanya tu. Menarik sekali penceritaannya. Kami pun belum sampai lagi museum baba nyonya di Melaka atau Penang. Padahal tinggal di Penang, malu sih.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Oh ya ke?? πŸ˜‚ tak terbayang sampai kebalik meja hahahahah. Ingin sangat menang ya dua-duanya πŸ˜….

      Bang, museum ini pun ada di Medan, tapi saya tak pernah juga datangin. Kebanyakan memang seperti itu. Yg dekat terlupakan, yg jauh malah didatangin πŸ˜„πŸ˜„. Padahal Medan tuh kampung saya pula 😁. Tapi malah yg di Melaka yg saya visit πŸ˜…

  13. Djangkaru Bumi berkata:

    Sungguh luar biasa
    tempatnya penuh sejarah dan kenangan
    tak ada paku, wah filosofinya sungguh luar biasa
    barangnya serba antik, itu gosokan baju, saya jadi ingat saat masih SD, suka menyetrika baju pakai itu
    Terimakasih sudah berbagi kenangan cerita wisata

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Hahahahaha setrika arang ya mas πŸ˜…. Mungkin mama ku juga punya, tapi aku ga inget pernah dipake. Yg ada setrika listrik, tp modelnya jadul juga, dan beraaaaat 🀣🀣.kalo setrika zaman skr kan ringan yaa.

      Kaum Chinese dan peranakan ini memang banyak yaa filosofi dan pantangannya. Menarik sih

  14. Nursini Rais berkata:

    Bunda juga pernah ke sana ananda Fanny. Mei 2017. Tapi gak bisa nulis jelas dan akurat begini. Maklum semasa itu belum aktif menulis seperti sekarang.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Saya sering juga ngalamin begitu bunda. Pas dulu sering traveling 2010an, tapi sayangnya blm aktif nulis di blog, jadi yg ada ga ketulis 🀣. Kalopun coba tulis pake ingatan seadanya, feel nya kok ya ga dapet. Mana banyak lupa πŸ˜‚

  15. AZIAN KHALIL berkata:

    waahh… mereka memang mewah. datang ke tanah melayu sebagai saudagar… Yang di malaysia aje belum pernah sampe ke museum melaka. datang ke melaka makan asam pedas sahaja

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Kebanyakan kan seperti itu kak πŸ˜„. Di Medan museum peranakan juga ada. Dan Medan itu rumah ortu saya. Tapi sekalipun saya tak pernah DTG ke museum sana. Malah visit museum peranakan yg lebih jauh pula 🀣🀣. Terkadang memang gajah depan mata ga klihatan, tapi semut sebrang lautan jelas sangat πŸ˜„πŸ˜„

  16. Zana berkata:

    Terimakasih atas perkongsian. Akak belum pernah kesana lagi….

  17. Zana berkata:

    Terima kasih atas perkongsian. Akak pun belum pernah ke sini lagi.. InsyaAllah one day akan kesana bersama anak2.

  18. anamizu berkata:

    saya orang Malaysia aja belum pernah lagi jejak kaki ke Museum Baba Nyonya itu hehe

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Tak apa kak πŸ˜„. Terkadang saya sendiri lebih banyak wisata ke luar negara drpd wisata negeri sendiri. Di Medan pun ada museum peranakan, tapi saya malah blm lihat. Eh visit yang di Malaysia pula πŸ˜‚

  19. Fieza Sani berkata:

    Wah seronok pi muzium macamni..Byk kita boleh belajar.

  20. anies berkata:

    aling sepatutnya pakai kasut manik. baru complete costume baba nyonya… πŸ˜‰

  21. Nur berkata:

    Cantik sahabat Fanny, Aling, pakai baju kebaya nyonya. πŸ™‚

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Haaai kak nur, kemana ajaaa. Berkali2 Fanny ke blog kakak, tapi tak ada update. πŸ€—

      Aling memang hobinya foto. Jadi kalo kesini pun nak sangat sewa kostum sekalian πŸ˜‚

  22. ainun berkata:

    Dulu nggak sempet masuk sini.
    Zaman segitu punya rumah kayak gini aja udah termasuk mewah banget nget nget, meskipun tempat tidur kayu yang terlihat agak kuno, tapi di zaman dulu tempat tidur seperti itu mihill dan baguss, jadi inget rumah neneku hahaha

    unik juga ya mbak kalau zaman dulu di sana, lentera juga difungsikan sebagai papan informasi dari pemilik rumah.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Beneer Mbaaa. Rumah begini di zaman dulu mah, udh kayak rumah orang kaya 100 turunan kaliii 🀣🀣. Lah zaman skr aja rumah tua begini apalagi terawat pula dan kayak nilai sejarah, bisa diminta mahal.

      Aku juga sukaaa rumah tua. Malah yg penuh dengan fengshui bagus kayak rumah peranakan selalu jadi favoritku. Krn mereka biasanya udh perhitungan semua lokasi yg bagus dan lainnya. Ventilasi juga pasti lancar Krn orang Chinese dan peranakan kan sangat mentingin itu.

  23. Rivai Hidayat berkata:

    Mbak fany..ceritanya sangat lengkap dan bagus…aku sukak!!!

    Mbak fany, ga ada keterangan kenapa rumah milik keluarga chan dialihfungsikan jadi museum…?
    Kalau jadi museum, berarti keluarga chan tidak menempati bangunan itu lagi. Padahal cucunya 8 orang kemudian seiring jalannya waktu bakal jadi keluarga yang sangat besar.

    Mungkin yang dimaksud mbak fanny ruang atap terbuka itu semacam sumur langit. Tujuannya memang jadi pintu untuk rejeki dari langit. Biasanya digunakan untuk berdoa juga. Mereka percaya bahwa berdoa dari tempat itu akan langsung menuju langit. Di klenteng tay kak sie, semarang juga ada sumur langit.

    Dapur yang luas itu mirip dengan pawon yang ada rumah-rumah lawas jawa. Ukurannya luas. Lengkap dengan tungku perapian untuk memasak. Dulu juga maaih menemukan cobek buat numbuk dan cobek buat ulek sambal. Kalau lagi masak besar pasti dapur sangat ramai..wkwkwk

    Satu hal yang aku suka dari keluarga peranakan kayak gini adalah mereka masih menjaga dan merawat tradisi-tradisi yang diturunkan. Tradisi-tradisi mengatur banyak hal, bahkan ketika makan juga diatur.

    Keluarga peranakan di semarang itu banyak banget. Salah satu yang terkenal yaa oei tiong ham yang dikenal dengan raja gula. Sayangnya, semua perusahaan gula miliknya telah dinasionalisasi oleh pemerintah. Istana miliknya masih berdiri dengan kokoh dan kini dijadikan kantor lembaga keuangan. Yang benar-benar hilang itu halaman belakang istananya yang kini jadi sebuah perkampungan. Ga kebayang kalau misalnya istana itu dijadikan museum dengan segala cerita dari sosok oei tiong ham. Tapi hal kayak gini mustahil untuk terwujud negara ini. Cerita tentang oei tiong ham dan keluarga peranakan lainnya hanya akan berputar di lingkungan penggiat dan pencinta sejarah saja.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Dari yg aku tahu , dikasih tau staff museum pas awal masuk, keluarga Chan udh ga tinggal di sana, tapi mereka masih pemilik sah dari rumah ini. Artinya blm jadi milik negara. Cuma mereka minta ke pengunjung utk hati2 ketika masuk. Jangan seenaknya sentuh, atau menduduki atau meniduri perabotan. Supaya ga rusak juga.

      Mereka sendiri Krn udh banyak yg nikah dengan orang asing, jadinya mostly tinggalnya di LN juga πŸ˜„.

      Ohhh kalo di Indonesia namanya sumur langit yaaa

      Aku bayangin pasti sejuuuk sih kalo rumah ada begini. Cuma ga kebayang juga kalo badai hujannya mas 🀣🀣. Sereeem.

      Keluarga peranakan sampe skr memang masih setia Ama adat. Lah temenku si Aling, keluarganya masih adat bangettt. Makanya Aling juga semangat waktu DTG ke tempat ini. Sebagian dari apa yg ada di museum, dia bisa relate Ama kebiasaan keluarganya πŸ˜„

      Di Indonesia masih ada Tjong a Fie museum, peranakan juga. Tapi aku blm pernah kesana mas. Jadi ga tau bentuknya..kayaknya sih masih punya keluarga Tjong. Yg di Semarang Rata2 udah di nasionalisasi yaa? Itu Krn owner-nya pindah, udah ga ada atau gimana? Atau dipaksa ambil Ama pemerintah πŸ˜…

      • rivai hidayat berkata:

        iyaa, ada Tjong Afie yang lumayan terkenal. Yang di semarang itu yang dinasionalisasi perusahaan gula milik oei tiong ham. Sekarang jadi salah satu bumn. Kalau untuk istananya belum tahu kepemilikan punya siap. Yang jelas sekarang digunakan sebagai gedung OJK jateng. Di daerah pecinan semarang masih ada beberapa rumah keturunan china yang kaya. Salah satunya keluarga tan.

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Suka ngerasa sayang aku kalo ngeliat bangunan tua kaya sejarah begini, tapi ga terawat atau malah dijadiin kantor kalo di Indonesia. Pemiliknya juga mungkin ga mau ngurus,atau dah tinggal LN kali yaaa. Krn merawat rumah tua begini juga biayanya gede sih 🀣. Mau dijadiin museum, terkadang tau sendiri, blm banyak orang seneng ke museum. Cendrung sepi museum kita mah πŸ˜”

  24. anies berkata:

    aling peminat warna kuning ya? ke…sebab costume warna lain dah habis dipakai?

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Bukan sebenarnya. Tapi size untuk dia tak banyak pilihan. Dan yg ada, cuma kuning yang kliatan bagus di kamera. Baju warna lain, terlihat kusam dan mati warnanya. Tak cemerlang di kamera kak 😁

  25. anies berkata:

    kalau tak silap dulu muzium ni dijadikan lokasi drama Baba & Nyonya. masa tu zaman saya kecil dulu selalu juga laa layan drama ni sebab ia lebih kepada sitcom…

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Oh dulu ada sitkomnya kak? Yg saya tahu blue mansion Penang yg dijadikan lokasi syuting crazy rich movie kan.

  26. Hanamiko Sakura berkata:

    wahh, saya sendiri pun belum lagi sampai ditempat-tempat menarik yang penuh dengan kebudayaan macam ni. perkongsian menarik!

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Datanglah kak. Sungguh menarik sangat tempatnya. Tak ada bosan saya selama di dalam. Semua barangnya terawat dan penjelasan detailπŸ‘

  27. eryka berkata:

    Suka deh kalau baca cerita tentang museum kayak gini jadi tau gimana asal mulanya dahulu hehe..

    Btw iyaa itu dapurnya guede banget mungkin kalo sekarang dh bisa jadi satu rumah ya mbaaa hahaha…

    Foto keluarga nya seru..bisa foto bareng semua anggita keluarga kayak gitu dh bener2 luar biasa πŸ™‚

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Kalo kata temen, dapur besar gitu diperlukan apalagi saat ada acara pesta mba. Rame jadinya yg bantu masak segala macam πŸ˜„.

      Naah itu, salut ih semua keluarga keturunan Chan bisa kumpul banyak begini. Mungkin malah belum semua kali yaa.

      • Eryka berkata:

        Ouww brarti mirip2 kayak orang jawa dulu ya mbaa…dapurnya besar semua tetangga pada bantuin kalo mo ada hajat..kalo skrg kan pada catering hehehe…tp keliatan nya kalo di desa2 masih sie yaa yg bantuin masak2 gt😁

        Iyaa ini curiganya belum semua kaluarga, mungkin msh ada yg tercecer gak bisa ikut foto2 🀭

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Rasanya desa masih saling bantu masak mba kalo ada kenduri atau pesta πŸ˜„..

          Yg di kota ini agak susah..memang udah paling pas katering aja 🀣.

          Pastilah ada yg ga bisa ikutan πŸ˜„. Kita aja yg jumlah keluarga nya mungkin ga sebanyak itu, disuruh kumpul semua selalu ada yg ga ikut πŸ˜…πŸ˜

  28. mrhanafi berkata:

    Pakaian Baba dan Myonya memmang popular dan kini masih juga orang pakai terutama majlis perkahwinan kampung

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Oh yaaa kalah? Baguuus memang baju mereka. Nampak anggun dan elegan kan. Baju kebaya encim kalo kami sebut di Indonesia. Baju ini pun banyak dipakai saat hari2 besar.

  29. Ririn Wandes berkata:

    Meskipun sering ke Malaysia bahkan bisa setiap bulan,kak tapi main ke Melaka itu paling baru 4 kali dan belum berkesempatan ke museum ini. Tentunya akan masuk dalam daftar museum yang akan dikunjungi langsung deh saat trip selanjutnya ke Malaysia. Membayangkan vibes disitu ya sudah kembali ke puluhan tahun lalu deh bahkan ratusan tahun bisa dibilang gak sih kak?

    Kepengen juga pakai baju nyoynya seperti si kakak itu, kelihatan cantik banget dengan balutan warna kuning apalagi wajahnya mendukung memang aura oriental gitu yakk.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Soalnya Aling memang peranakan Rin, jadi dia luwes banget pakai kebaya ini. Malah nyesel ga bawa sendiri dari rumahnya πŸ˜„.

      Coba ntr kalo ke Melaka datang ke sini deh Rin.

      Atau yg di Penang, kamu pernah datangin ga? Blue mansion. Itu jauuh LBH mewah, dan pernah dipake syuting film crazy rich.

      • Ririn Wandes berkata:

        Oh yang dipakai untuk shooting crazy rich asian ya kak? Rumah si keluarga lelaki yg tajir itu kah? Duh belum pernah ku masuk ke Blue Mansion,kakak. Sepertinya harus dicari tahu deh,hahaha karena ku lumayan suka film itu.

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Iyaa Rin, yg utk syuting crazy rich di sana lokasinya, bukan singapur. Makanya aku pengen kesana kalo ntr ke Penang lagi. Trus kalo bisa stay sekalian, Krn ada penginapannya. Utk area tamu hotel, yg cuma sekedar visit museum ga akan bisa akses. Jadi aman buat tamu.

  30. Amie berkata:

    Melaka Bandar Bersejarah!
    Memang Melaka kaya dengan budaya dan tinggalan sejarahnya.
    Saya juga beruntung dapat menjejak Palembang pada Ogos lalu kerana berpeluang menjejak asal-usul orang Melayu, serta Bukit Siguntang tempat asal keturunan Raja-Raja Melayu. Ketika kami berada di sana, seolah-olahnya sedang membaca Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) tempat asal Parameswara dari Palembang yang akhirnya menjadi pengasas Kesultanan Melayu Melaka dan melebarkan empayarnya sehingga menjadi rebutan kuasa Portugis dan Belanda.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Jujur, saya sendiri ga tau banyak ttg sejarah ini kak Amie. Dulu pernahlah di pelajari saat sekolah. Tapi rasa dah lupa semua dari kepala πŸ˜….

      Hanya saja setelah datang ke museum begini, baru bisa terbayang lagi

      Seharusnya sejarah itu kayak gini.

      Dibuat museumnya, dengan informasi yg interaktif, jadi anak2 skr pun ga bosan untuk belajar sejarah.

      Saya ke Palembang baru sekali. Itupun hanya wisata kuliner πŸ˜…. Saya tak cari tahu ttg sejarah nya di sana. Padahal memang Palembang banyak tempat2 wisata sejarah dari zaman lampau

  31. RAWIWA berkata:

    Saya sendiri tidak tahu kewujudan muzium ini. Terima kasih Fanny atas perkongsiannya. Jelas sekali penerangan beserta foto.

    Aling sangat manis berpakaian peranakan.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Aling sendiri masih peranakan juga kak πŸ˜„. Makanya dia cocok sangat pakai kebaya encim ini πŸ‘πŸ€­.

      Sama2 kak, baguuus sangat museum ini untuk semua orang bisa belajar budaya peranakan

  32. Jaey Borneo berkata:

    Seru berasa ikut melihat2 disana, hehe..

    Semua tradisinya itu masih diterapkan nggak ya dijaman skrg? seperti gak boleh pakai paku, makan di piring biru putih, dan main injak-injakan kaki di bawah meja, hehe..

    Ada peti mirip kulkas dan maker ice cream dijaman itu, berarti sdh ada es krim dijaman itu..

    Btw engkohnya grogi tuh foto di deket Aling, “jangan2 gue mau dilamar nih..” kata si Engkoh wkwk..

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Hahahaha si engkoh malah genit aslinyaa 🀣🀭🀭. Baiik tapi dia.

      Mungkin di keluarga yg masih pegang teguh tradisi, masih kali yaa mas.

      Tapi kalo udah nyampur Ama ras lain, aku ragu sih mereka masih pake budaya gini.

      Sayang sebenernya. Jangankan budaya peranakan, budaya kita sendiri aja jarang ada yg masih ngelakuin.

      Kayak aku, pas nikah, ga mau pake budaya Batak 🀣🀣. Lamaaaa cuy, kan capek πŸ˜‚

  33. Satria Mwb berkata:

    Unik juga yee MUSEUM BABA & NYONYA HERITAGE ini, dan saya kira arti ‘Baba’ itu seorang ayah yang lebih tua. Ternyata ‘Baba’ itu sebutan kehormatan untuk laki-laki peranakan atau secara umumnya Tuan.

    Gue baca artikel ini kaya baca sejarah China Glodok atau China Benteng Tangerang.🀣 🀣 Meski adat dan tata caranya berbeda banget tapi casing tampilan tetap bisa ketebak.

    Nah. Kan udah kebaca juga hiburan sang nyonya juga hampir sama kaya China benteng yaitu main Cherki dan Mahjong, Kenapa nggak Gaple sekalian padahal awal adanya Mahjong dari Gaple, cuma bedanya Mahjong dari bahan mika plastik keras.

    Emang kalau mau detail banget enak datang ke Museumnya langsung yee mbak Fans.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Awalnya aku kira juga baba itu ayah. Ternyata di budaya peranakan malah tuan artinya πŸ˜„.

      Hahahahah China Glodok Ama benteng ya mas🀣🀣. Mereka peranakan juga ga sih? Kayaknya iya yaa…. soalnya ga terlalu Chinese pun 🀭.

      Aku tuh samoe skr ga ngerti cara main mahjong, gaple dan sodaranya itu 🀣🀣. Padahal kalo di internet main mahjong kayaknya kumpulin gambar yg sama. Tapi aslinya kayak lebih rumit yaa πŸ˜‚πŸ˜„

  34. Nurul Sufitri berkata:

    Ya ampyuuuuun ga kebayang mbak Fanny nulis cerita ini pasti bongkar2 sejarahnya hahahahah dari brosur berbahasa Inggris atau ada tambahan gugelan kali ya? Biar ga salah info wkwkwkwkwk. Oh, jadi saat pernikahan, acaranya sampai 12 hari ya ck..ck.. kalau ada kematian kudu ganjil angkanya wah! Perabotan yang dipajang di Museum Baba Nyonya ini keren2, jadi pengen bawa pulang piring2 cantiknya hihihi. Ulekan, alat bikin kue putu, samaan ya kayak kita seleranya. Iya ya, ada ruangan khusus yang kalau lebih dari jarak sekian mesti ditemani pengawal. Namanya juga istimewa. Seandainya pas ke sana kebagian tour guide pasti bakalan lebih asyik ya nikmatin museumnya.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Untungnya majalah guide yang dikasih sangat komplit mba. Dan jelas juga penjelasannya. Jadi aku pun ga kesulitan untuk paham pas liat barang2 di museum ini πŸ‘πŸ‘.

      Mungkin kalo pake guide bakal lebih jelas, tapi bisa jadi akunya banyak lupa penjelasannya, kecuakj di rekam πŸ˜„

  35. Cipu berkata:

    Nanti kalau mau main kesini, cukup baca blog mbak Fanny karena ini lengkap banget reviewnya Mbak. Jadi yang males baca buku pedoman dalam Bahasa Inggris, dikasih link blog mbak Fanny saja.

    Kagum dengan mereka yang masih merawat dan melestarikan warisan orang tua dan bisa jadi pelajaran sejarah untuk anak jaman sekarang. Rumahnya juga bagus ya, filosofinya ga pake paku dan ada ruang masuk udara serta air hujan untuk mendinginkan ruangan. Great review mbak Fanny

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Tapi ada beberapa ruangan yg aku ga tulis mas. Itulaah akibat baca buku pedoman di akhir jalan wkwkwkwkwk. Sibuk motoin si Aling 🀣🀣🀣.

      Samaaaa, aku kagum Ama mereka yg masih merawat sejarah. Walopun rumah ini ga dipakai lagi Ama keluarga Chan, diikhlaskan jadi museum, tapi ttp mereka mau merawat. Ga dijualin.

      Kan ada tuh setelah beberapa generasi, trus barang2nya dijual Ama pewaris. Rata2 Krn ga mau merawat. Ntr kalo ke Medan, aku mau liat rumah peranakannya Tjong a Fie juga 😁

  36. Sibayukun berkata:

    Mba Aling cocok banget sumpah sama bajunya.. πŸ€— Warna kuning sama rias wajahnya cucook.. 🀩

    Mba aku pas baca sempet bertanya-tanya kenapa rumahnya kok dijadiin museum? apa keluarganya udah nggak ada yang di sana. Soalnya pas baca kan anaknya aja 8 πŸ˜„ Tapi udah dijawab di komenan Mas Rivai 😎.

    Tulisan mba Fan keren sih.. Lengkap, bahasa yang dipakai juga enak dibacanya jadi yang baca nggak bosen… Meskipun nggak ada hubungannya, tapi baca ini aku keingat Museum Gajah yang kebakaran.. Hiks πŸ˜₯ sedihh beudd

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Ahh makasiiiih bayuuu πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„. Yg namanya museum itu, aku tahu terkadang bosenin untuk dimasukin. Apalagi kalo cuma ada tulisan untuk penjelasannya. Makanya sebisa mungkin aku mau tulis seolah jadi guidenya😁 biar ga ngantuk πŸ˜….

      Eh aku baru tahu museum gajah kebakran 😱😱😱. Aduuuh dah lama ga baca berita … langsung Googling tadi. Sedih banget bayangin barang2nya , itukan banyak barang kuno yaa πŸ™

      Gimana ceritanya bisa kebakar gitu 😭

  37. ~uncle gedek! berkata:

    Cantiknya Aling!

    Mahjong memang best friend keluarga Baba!

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Langsung terserlah aura peranakan dia kan uncle πŸ˜„. Iyaa, Aling juga cerita kalo mahjong sering dimainkan oleh keluarganya.

  38. Leyla Imtichanah berkata:

    Seru juga main ke museum. Kalo aku dateng ke sini, auto nostalgia film-film latar sejarah China nih. Walopun ini di Malaysia, tapi tradisi Chinanya kental banget. Itu nikahnya juga masih pake busana manchu ya. Orang dulu mah anaknya banyak kan belum ada kontrasepsi wkwk

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Beneer mba. China peranakannya kuat BANGETTTT. Jadi masuk ke dalam kayak ga merasa di Malaysia πŸ˜„.

      Baguus ini buat belajar sejarah. Beruntung ih Melaka , Penang, punya peninggalan begini

      Medan juga ada sebenernya. Tjong a Fie mansion. Tapi aku blm datangin 🀣

  39. Nadia berkata:

    Wah menariknya, saya orang Malaysia sendiri tak pernah ke sana *maluu*. Ceritanya begitu details make me feel I was there with you πŸ˜‰

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Tak apa kak Nadia. Saya pun seriiing begitu. Wisata dalam negara sendiri, jarang saya datangin. Saya lebih sering luar negara kalau traveling 🀣. Memang begitu kan. Terkadang kita lupa yg dekat, tapi selalu melihat jauh hahahaha πŸ˜„

  40. Suria Amanda berkata:

    Kagum Kak Sa dengan kamu Fanny, lengkap sekali entry nya dengan sejarah awal baba nyonya ni..Aling tu cute banget ya..comel..kamu tak ambil gambar macam Aaling? kalau ada Kak SA nak tengok..ke ada dalam IG?

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Makasiiiih kak SA πŸ™πŸ˜˜. Saya memang berusaha nak tulis selengkap mungkin karena tempat wisata sejarah seperti ini biasanya underestimate. Padahal dalam nya baguus dan sangat membantu untuk paham sejarah

      Saya tak suka foto kayak Aling kak 🀣🀣🀣. Foto secukupnya saja. Lebih suka jadi fotografer πŸ˜‚

      Eh saya lagi vakum dari IG. Nak fokus di blog. Tapi nanti pasti balik ke IG , cuma belum tahu kapan πŸ˜„

  41. Peri Kecil Lia πŸ§šβ€β™€οΈ berkata:

    Yaampun, Kak Aling gemesh banget, Kak!! Rasanya malah kayak Kak Aling bagian dari orang yang tinggal di rumah ini beneran wkwk.

    Rumah keluarga Chan udah segede gini, masih ada yang lebih gede lagi?! 😱. Tapi ya, Kak, rumahnya beneran khas peranakan banget! Aku pernah ke museum rumah peranakan di Tangerang dan nuansanya mirip-mirip deh. Ada tangga yang nggak dipaku jadi harus hati-hati banget kalau naik, nggak boleh langsung ramai-ramai karena udah tua juga tangganya πŸ˜‚. Khas rumah peranakan juga ya untuk perabotan kayu dan piring porselen hahaha. Satu hal yang aku notice, baju di patung yang main cherki mirip ya sama kebaya di siniii!

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Makanyaaa, aku ga kebayang yg blue mansion Segede apa lagi Li πŸ˜„πŸ˜„. Sayang banget pas ke Penang kemarin ga kesana, udh aku masukin ITIN, tapi anak2 nolak πŸ˜‚. Next harus pokoknya.

      Eh baru tahu loh di Tangerang juga ada. Yg aku tahu kalo di Indonesia di Medan lokasinya, rumah Tjong a Fie.

      Tangerang gede juga ga? Daerah mana Li?

      Kalo tangga yg di sini kliatannkokoh walo dah tua. Pakai kayu yg anti rayap dan kuat banget itu looh.

      Kebaya peranakan mirip sih Ama kebaya encim. Bedanya kalo kebaya peranakan zaman dulu lebih transparan, jadi camisol yg dipake kliatan. Tapi kata Aling memang dulu begitu. Dia punya juga soalnya πŸ˜„

      • Peri Kecil Lia πŸ§šπŸ»β€β™€οΈ berkata:

        Kalau yang di Tangerang itu Museum Benteng Heritage namanya, Kak Fanny. Dia kecil sih, tapi 2 tingkat. Jalannya masuk ke pasar gitu tapi nggak jauh kok dari jalan utama wkwk

        Di deket Glodok juga ada tuh, Kak~ yang di tengah hotel Novotel dan masuknya gratis untuk yang ini. Yang di Glodok cuma 1 lantai aja, tapi bukan rumah peranakan, cuma bekas rumah kapitan China kalau nggak salah.

        Aku tunggu cerita Kakak tentang Blue Mansion nanti πŸ˜†

        • Fanny Fristhika Nila berkata:

          Tapi museumnya komplit ga Li? Yg di tangerang itu? Pengen sih liat.

          Yg di Penang ntahlah kapan bisa aku visit πŸ˜„. Blm ada plan ke Penang lagi. Tapj Krn ini dekat, jadi bisa aja mendadak perginya, Ama twmen2 πŸ˜…. Kalo pergi Ama Raka ga asyik kesana..Krn dia pasti ga suka

          • Peri Kecil Lia πŸ§šπŸ»β€β™€οΈ berkata:

            Lumayan beragam isinya, Kak~ ada baju-bajuan sama kasur juga, ada foto-foto sejarah juga, tapi ukurannya kecil kalau dibanding rumah di Melaka ini, Kak. Tapi ada 2 lantaiii. Yang lantai atas bagian kasur sama baju gitu. Kalau nanti Kakak jadi mampir, update-update ya di blog soalnya aku udah lama nggak ke sana. Pengin lihat updatenya sekarang gimana πŸ˜†

          • Fanny Fristhika Nila berkata:

            Siiiiip, kalo sedang staycation di daerah sana coba aku mampirin deh. Menarik kalo sejarah2 gini. Apalagi anakku mau2 aja ke museum asalkan memang ga bosenin.

  42. mrhanafi berkata:

    Dalam kehidupan hari ini juga masih ramai yang mahu anak pertama cowok….alhamdulillah saya yang pertama juga cowok

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Saya anak kedua yg cowo πŸ˜„. Untung nya suami orang Jawa, jadi dia ga pentingkan anak cowo. Karena bagi suku sepertj Batak, anak cowo penting buat penerus marga bang. Saya Batak soalnya . Jadi papa sampe nyuruh mama lahiran Mulu demi dpt cowo. Untuk anak ke4 cowo 🀣🀣🀣

  43. Pipit Widya berkata:

    Baca ini sambil membayangkan suasana zaman dulu dengan melihat foto2 yg ada. Takjub melihat barang2 yg masih terawat dengan baik.

    Kalau zaman dulu, banyak anak banyak rejeki. Kalau zaman sekarang jadinya banyak anak banyak adsense kali ya, mba. Hahahah, bercanda.

    Pas lihat foto setrika, zaman saya kecil, saya masih pake setrika arang seperti itu lho, Mba. Harus sering dicek arangnya supaya tetap panas. Yang bikin malas tentunya ngipasin arang. Lama dan apinya nggak jadi mulu. Hahaha.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Trus ada yg cerita pake setrika arang ini kekurangannya selain susah, berat dan abu arang suka ngotorin baju πŸ˜…. Bener ga tuh.

      Salut karena barang2nya memang dijaga banget, jadi bisa diperlihatkan ke pengunjung yg datang. Menarik kok museumnya mba πŸ‘. Rekomen untuk divisit

  44. Uphiet berkata:

    Aduh ini salah satu wishlistku kalau ke Malaka πŸ™‚ Museum yang masih terawat dan informasinya pun detail. Sekarang jalan2 virtual aja dulu di sini πŸ˜€

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Haruuus datangin Mbaaa. Museum yg ini dan kalo sempat yg di Penang juga, blue mansion. Lebih cantik lagiii, dan pernah dipakai syuting film crazy rich πŸ‘πŸ‘

  45. Reyne+Raea berkata:

    waaahhhh lengkap! ini menarik banget buat dikunjungi Mba!
    Paling suka deh kalau mampir dan melihat serta mengetahui langsung sejarahnya kayak gini.
    Dan takjub sih, para orang China ini, di manapun mereka berada, selalu setia dengan budaya aslinya ya. Dan karena itu, budaya China itu ada di mana-mana, bahkan di Buton sendiri, di bagian Kratonnya masih ada beberapa ornamen yang mirip dengan budaya China. Di Jawa juga, baik di Surabaya, apalagi Semarang ya.
    Btw, kayaknya, dari banyak artikel tentang Museum Baba Nyoya Heritage Melaka ini, cuman tulisan ini yang paling lengkap, hahaha

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Hahahahah tx Rey πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜˜. Soalnya tujuanku memang pengen seolah temen2 ikutan lihat dan masuk ke museum. Walo ini belum semua ruangan, tapi udah nyaris lengkap kok πŸ˜„.

      Museum kayak begini suka underestimate Rey. Dianggab ga menarik. Padahal sejarahnya bagus ditambah barang2 komplit. Makanya aku bikin lengkap supaya orang tertarik juga kalo DTG kesana dan tahu apa yg bakal dilihat

  46. Rani R Tyas berkata:

    iiih mbak, beruntungnya bisa datang ke tempat bersejarah gini. Rasanya menyenangkan ya bisa melihat sisa-sisa kehidupan tempo lalu. Uniknya anak cicit mereka pun tidak fanatik lagi harus menikah dengan peranakan ya, karena banyak uga yang dapat orang bule. hehe

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Enak kalo keluarga besar udah ga fanatik. Temenku si Aling keluarganya masih fanatik, dan ga boleh dpt laki di luar Chinese πŸ˜„.

      Tapi memang mungkin Krn keturunan keluarga Chan ini udh banyak di LN, jadi pikirannya juga lebih terbuka kali yaa

  47. azian elias berkata:

    Waduhhh.. akak sendiri belum pernah masuk ke musium itu loh.. tapi akak suka masakan cina pranakan. enak2. selalunya kalau ke melaka tu suka muter2 bandar2 nya ajah. sambil santai2. akak kerap stay di homestay di sana. spt banglow kerna pergi nya itu satu keluarga besar.

    nnt2 Fanny datang ke shah alam ye. bisa ketemu kita.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Beneer kak, masakan cina peranakan itu enaaak 😍. Saya juga suka. Untungnya masih mudah dicari juga kalo di Indonesia. Karena kaum peranakan di sini pun ramai.

      Sebenernya wajar kalo orang asli Malaysia malah banyak yg belum ke museum ini. Krn saya sendiri jarang visit tempat wisata di Indonesia, lebih sering visit wisata di luaran πŸ˜…πŸ˜„. Terkadang kita mikirnya, dekeet ini, masih bisa nanti2 didatangin hahahah. 😁

  48. Cuya berkata:

    Waduhh namanya aja saya duduk di Melaka, tapi kesini aja gak pernah.. heeheh

    Kepingin banget pake baju kebaya nyonya, cantik bangett!

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Cobalaah visit cuyaa. Baguus tempat ini. Terawat, tak mahal fee masuk. Bisa juga cuya sewa kebaya nyonyah biar makin totalitas di dalam πŸ˜„πŸ‘

  49. Istiana Sutanti berkata:

    Rumahnya gede bangeett. Dari foto jadul yang berempat itu, keliatan banget orang kaya ya, ahaha. Padahal hitam putih, tapi tetep keliatan gitu.

    Kerennya, yang sekarang juga masih ada keluarga lengkap dan besar banget! Aku pikir ini dijadikan museum karena udah diserahkan ke negara, ternyata masih milik keluarga Chan ya, berarti mereka masih ngurusin sampai sekarang dan sampai detail. Keren yaa

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Aura mukanya orkay banget ya Mbaaa hahahahah 🀣🀣. Saluut juga Ama keluarga besar Chan, masih kompak sepertinya, dan mereka mau merawat rumah peninggalan moyangnya. Hebat sih. Kebanyakan rumah tua begini Ama ahli waris di jual kali πŸ˜„. Tapi aku sendiri kalo dpt warisan begini mah ga mau jual πŸ˜‚. Sayaaang banget. Memang udh bener dijadiin tempat wisata.

  50. Haryadi Yansyah berkata:

    Ngeliat bangunannya, aku jadi terkenang sama hostel di Penang yang pernah aku inapi. Mirip mungkin karena sama-sama bergaya Tionghoa. Sedangkan secara isi museum malah keingat juga sama Museum SMB II sebelum direnovasi dulu.

    Aku suka berkunjung ke tempat kayak gini. Yang mana museum tapi aslinya ya rumah. Harga tiketnya pun masih oke sekitar 50 ribuan rupiah itupun bisa dapet diskon lagi kalo beli di OTA ya mbak πŸ™‚

    Sayang, 2 kali ke Melaka aku belom sempat datang ke sini hiks. Kudu ke Melaka lagi ini.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Tempat ini memang underestimate sih mas. Banyak temenku yg orang Malaysia juga belum pernah kesini. Padahal baguus banget. Dan semuanya masih terawat juga. Hebat sih mereka bisa menjaga warisan keluarga gini.

      Ntr kalo ke Melaka lagi, coba datangin deh. Menarik kok sejarahnya.

  51. Agus berkata:

    Orang kaya ngga kaleng kaleng ini mah, soalnya sampai bisa bikin museum keluarga. Kirain yang ngurus negara, ternyata masih keluarga Chan ya. Mungkin biayanya dari tiket yang 16 Ringgit itu ya mbak.

    Kalo ngga salah di Indonesia juga ada museum keluarga pendiri rokok Bentoel.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Aku pernah dengeeeer museum rokok itu mas. Pengen jugaaa aku datangin. Tapj suami pasti males. Ntr dikiranya aku pengen ngerokok lagi, padahal kan cuma mau tau sejarah πŸ˜„

  52. Sha Mohamed berkata:

    Menarik muziumnya.. Sha yang pernah ke Melaka pun tak sampai lagi di muzium ini..

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Itu sebenernya wajar kak Sha. Saya saja ga pernah DTG juga ke museum peranakan yg di Indonesia 🀣🀣🀣. Duluan DTG ke Melaka malah πŸ˜„

  53. carneyz berkata:

    Ada satu drama di Netflix (tak pasti di Netflix Indonesia ada ke tak), The Little Nyonya. Pernah popular di Malaysia dan Singapura dulu, kehidupan tentang gadis yang dilahirkan dalam keluarga Baba Nyonya pada zaman sebelum Jepun datang. Saya suka sangat tengok drama tu sebab suka tengok kostum, budaya, makanan & seni sulaman manik yang ditonjolkan dalam drama tu.

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Saya langsung cek, ternyata tak ada di Netflix sini πŸ˜…. Ya sayaaang banget, padahl kalo ada, saya nak tengok lah … nanti coba cari dari aplikasi film yg lain πŸ˜„. Menarik pasti ceritanya

  54. mamapp berkata:

    aww cantik sekali fanny berbusana nyonya.. manis dan sopan. seronok juga pergi muzium ni

  55. Ria berkata:

    Itu temennya cucok bener pake kostum peranakan… Menarik ya pas baca2 sejarah keluarga tsb, mulai dari peralatan mesti genap… Kalau gak salaaah inget sih, kata temen gue biar kokoh gitu berdirinya. Kalau hanya satu atau ganjil, macam ada yang hilang, kurang kuat pondasinya.
    Begitu liat alat bikin es krim, wondering seperti apa ya es krim yang dibuat dengan alat itu pada masa tersebut? Apa macam es puter?
    Ohya dan yg bikin ngakak, soal warna porselen biru putih hanya utk acara pemakaman… ya buset, padahal kyknya banyakan porselen yg warnanya seperti itu yah :))))

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Oalaaah supaya kokoh yaaa πŸ€£πŸ˜„πŸ˜„. Masuk akal sih.

      Samaaa aku juga penasaran es krim yg dibuat dr alat inj gimana bentuknya. Apa kayak es tung tung yg Skr ini banyak dijual 🀭

      Nah Chinese itu memang banyak warna2 yg melambangkan sesuatu kan. Jadi ga bisa salah tuh pakenya. Aku aja keder mungkin kalo jadi mereka, harus tau mana warna yg untuk casual, mana yg haram buat dipake pesta 🀣🀣

  56. Jalan2Liburan berkata:

    Dulu ada TV serius judulnya TheLittle Nyonya, bagus deh Fan ttg hidup di masa2 yang kamu ceritakan di atas, produksi Singapore tapi mainnya di Malaka dan Penang, serialnya dikurasi dengan baik, ga bosan nontonnya

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Iiih, ini udh direkomendasikan Ama beberapa temenku yg orang Malaysia mba, tapi blm Nemu bisa ditonton di mana 🀣🀣Netflix ga ada. Coba ntr ah cari di YT. Paling suka nonton sejarah gini

  57. Lantana Magenta Hermosa berkata:

    Very detail and informative!
    Belajar tentang kultur dan tradisi peranakan.
    Aling cantik banget

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Thank youuuu mba 😘. Memang niatnya mau bikin detil supaya teman2 yg blm pernah kesana bisa ada bayangan ttg museum ini :).

      Aling memang fotogenic. Paling enak kalo motoin diaπŸ˜„

  58. Tukang Jalan Jajan berkata:

    salah satu kota yang apling banyak museumnya selain Penang adalah Melaka. Suka maju mundur mau masuk museum kalau ngeliatin entrance fee nya hehehe maklum, selalu jadii backpacker. Tapi kalau untuk museum yang satu ini emang kudu dimasukin sekali seumur hidup sih. masih terjaga baik dn rapi museumnya

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      aku pun gitu kok mas. kalo terlalu mahal dan isinya ga sesuai ama kesukaanku, ya males. kayak salah satu kuil di bangkok yg hrgnya lumayan mahal, atau angkor wat, males banget hahahaha. krn memang ga doyan candi ;p. Mau murah juga mungkin aku tetep ga masuk kalo dasarnya ga suka πŸ˜€

  59. Nur Asiyah berkata:

    Kalau singgah di museum selalu takjub sekaligus imajinasi melayang buat membayangkan zaman lalu. Btw bajunya cakep kakak (kakak juga cantik hehe)

  60. Mbul kecil berkata:

    seneng banget baca perjalanannya apalagi pas baca banyak filosofinya kayak tangga ga boleh dipakuin karena ada kaitannya bisa ninggal…

    porselen piringnya cantik, dan aku emang tertarik banget sama kebudayaan orang tiong hoa terutama makanannya..

    pengen deh foto pake kebaya encim gitu dan pose di ukirannya hahahha

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Museum ini aku akuin baguuus banget. Apalagi informasinya jelas nit. Tadinya udh kepikiran ga ada guide bakal bingung ga yaaa. Tapi ternyata apa yg ditulis di bukunya, jelas bangettttt. Jadi memang ga usah pake guide, udh paham Ama sejarahnya asalkan mau baca πŸ˜πŸ‘

  61. Dedew berkata:

    Ya ampun cakep amat museumnya yaa lengkap dan terawat, ada guide juga serta buku panduan jadi lebih osham sejarah tuan rumah semasa dahulu kala yaa

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Beneer mba, jadi ga cengok yg datang, setidaknya walo ga ada guide, tapi buku panduannya lengkap dan mudah dipahami πŸ‘

  62. lendyagassi berkata:

    Pantesaaan, Ibuku suka banget koleksi piring.
    Apalagi yang ada gambarnya begini. Ya, selain ada yang di collect buat pajangan, ada juga yang buat makan (arcopal), dan motifnya Melayu banget.

    Kak Fan kalau cerita jago banget.
    Aku jadi ikutan belajar ke museum Baba Nyonya Melaka. Dan terhanyut ketika memasuki ruangan demi ruangan, juga adat saat mereka makan, menikah hingga meninggal.

    Rasanya hidup jadi bangsawan tuh juga ga mudah yaa..
    Perempuan jadi ga bebas kemana-mana. Selain demi martabat juga kehormatan keluarga.

    Btw,
    Jadi inget kasus Mirna karena ka Fan bilang kalau cewe ningrat ga boleh keliatan wajahnya. Kudunya gini ya.. biar selain menjaga harkat martabar, juga menjaga dari perbuatan buruk dari pesaing-pesaing bisnisnya, mungkin??
    ((just ma iimajination))

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Naaaah bisa jadiiii mba. Kalo muka istri, anak atau siapapun wanita yg penting di keluarga itu ga terlihat wajahnya, jadi lebih aman kan yaa dr para pesaing bisnis yg mungkin punya niat jahat. Melindungi wanitanya juga.

      Samaaaa mamaku jugaa 🀣🀣. Sampe aku bingung itu piring apa bgsnya dipajang, bukan dipake. Beda Ama aku yg sukanya buang barang kalo lemari atau rak udh penuh 🀣🀣🀣

  63. Wardah Fajri berkata:

    Berasa ikut traveling bareng, thanks kak Fanny tulisannyaaaa lengkaaappp

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Makasiiiih mba Wawa 🀭☺️. Semoga teman2 yg baca bisa merasa bagai virtual tour yaa 😁

  64. inia berkata:

    sejauh ini ini yang paling jauh, nikah sampai 12 hari kalau meninggal sampai 30 hari ckck emang orang kaya bebas ya, kalau disini nikah sehari aja sampai jual tanah wkwk. btw tempatnnya bagus buat prawed deh, lihat photo di jendela dan courtyard langsung ingat konsep prawed mana baju mbaknya mendukkung lagi

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Hrsnya bisa prawed di sana, tapi pasti biayanya beda lagi 😁.

      Memang bagus sih, karena spot2 fotonya banyaaak mba. Kalo hobi foto udh pasti seneng pose di sini

  65. time traveller berkata:

    “Bagi yg suka sejarah” tapi kalau sudah suka sama travel harus menyukai sejarah.. Kerana mendalam sejarah sama juga travel.. πŸ˜€

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Masalahnya banyak juga temen saya yg suka traveling, tapi males kalo disuruh masuk museum bang πŸ˜„. Tipe traveler yg LBH suka hal2 modern atau city tour, atau cuma sekedar nambah chop pasport 🀭

  66. rezkypratama berkata:

    yang saya inginkan di malaka adalah kepengenmencicipi durian heng malaka

  67. liez berkata:

    saya pernah duduk melaka dan seronok dpt pergi empat historical every weekend.. my heart to melaka memang besar walaupun sudah pindah ke kuala lumpur

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Memang Melaka baguuus sangat. Saya baru pertama kali kesana, dan langsung sukaaaa kak. Rasanya kayak masuk ke dalam sejarah, tapi kotanya pun hidup sangat. β€οΈβ€οΈπŸ‘. Pasti saya datangin lagi dengan keluarga nanti

  68. Nurzarini Ismail berkata:

    Anggun sekali berbusana baba dan nyonya, kelihatan classic. Nice photos to keep lah

  69. Belogkiter berkata:

    Setelah melihat post ini dan gambar gambar yang cantik ini. seharusnya saya ulang untuk melawat kembali museum ini. sudah lama saya tidak melawatnya

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Memang baguuuus museumnya πŸ‘β˜ΊοΈ. Banyak yg bisa dipelajari, dan saya jadi tahu sejarah baba nyonya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About Me

Fanny Fristhika Nila

Email: fannyfristhika@gmail.com

My Twitter: @f4nf4n

Lihat profil lengkapku

Follow Me

Subscribe Tulisanku


Delivered by FeedBurner

Archives

«

About Me

Fanny Fristhika Nila

Email: fannyfristhika@gmail.com

My Twitter: @f4nf4n

Lihat profil lengkapku

Follow Me

Subscribe Tulisanku


Delivered by FeedBurner

Archives

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.