D'Cat Queen

Because Travelling is not just a passion, it is a life need!

MENU

Apr 2012

14

JOURNEY TO HO CHI MINH CITY 13 – 15 DESEMBER 2011 (PART 1)

DAY 1,

Iseng browsing AIRASIA, dan tiba-tiba tertarik dengan promo ke Ho Chi Minh city, aku langsung booked 2 returned tickets to go there. Buta samaskali dengan negara ini, tapi aku dan Barney dapat cukup banyak info dari para bloggers yg sudah pernah kesana. So jadilah tgl 13 Des 2011 kemarin kita packing dan siap untuk menjelajah Ho Chi Minh. Pesawat delay 30 menit, sehingga kita berangkat pukul 17.00 WIB. Dasar emang lagi beruntung, ternyata yang jadi team leader pramugara/ri nya Mas Hayyat, sodara ku sendiri . Jadi deh kita dapat makanan gratis selama penerbangan .
Pukul 19.30 pesawat landing di bandara International Tan Son Nhat , Ho Chi Minh. Untuk info, ga ada perbedaan waktu antara Ho Chi Minh dan Jakarta. Setelah semua urusan bagasi dan imigrasi selesai, kita langsung mencari money changer untuk menukar sedikit USD yang dibawa. Aku hanya menukar sedikit, USD 20, krn beranggapan bahwa rate di luar bandara pastilah lebih bagus. Di bandara kita mendapat rate VND 21,100 untuk setiap USD 1.

Keluar dari bandara, kita langsung dijemput oleh pihak hotel Seventy Hotel, tempat kita stayed selama di HCM. Bayaran nya hanya USD 14. Sebenernya sih ini harga yang lumayan mahal, karena kalo kita lebih memilih menggunakan taxi sendiri, biayanya hanya USD 8. Tapi secara aku dan Barney belum tau samaskali jalan-jalan di sana, kita ga mw took a risk ditipu oleh si supir dan malah ended up membayar lebih mahal. Perjalanan ke hotel hanya sekitar 40 menit-an.

Seventy Hotel ada di jalan 70 Bui Vien, District 1. Hotel ini sendiri aku pilih melalui HostelBookers.com dan reviews dari semua turis-turis yang pernah kesana, mengatakan bahwa hotel ini sangat bagus, bersih, dan dekat kemana-mana. And that’s totally right. Dengan harga USD 22 per night, kita mendapat kamar bagus, yang bersih banget, AC Dingin, ada WI-FI, sendal kamar, hair dryer, handuk, peralatan mandi, shower air panas, pegawainya sangat ramah , helpful, bisa berbahasa Inggris dan jg include free breakfast.

Sepintas District 1 mirip dengan daerah Kuta di Bali. Di mana banyak bule-bule berkeliaran, nongkrong di cafe-cafe yang ternyata buka sampai pagi. Karna laper, kita kliling-kliling sebentar sebelum akhirnya memilih KIM’S Cafe utk memesan PHO Panas, makanan noodle soup khas Vietnam yang gurih, seger, dan enak banget.
Btw, untuk info para pelancong muslim, makanan di HCM memang kebanyakan tidak halal. Tapi di beberapa tempat di district 1 ini, tetep ada kok yang menjual makanan-makanan halal utk para muslim. Sebagai referensi aja, aku ada attach tulisan tangan yg didapet dari pegawai hotel Seventy, dan artinya kira-kira ‘Ayam, Daging Sapi ok, tapi tidak untuk daging babi’. Kertas itu yg kita tunjukin stiap kali memesan makanan di HCM.
Untuk semangkuk Pho panas, harganya VND 42,000 dan shake papaya yang aku pesen seharga VND 25,000. Barney hanya memesan air mineral yang harga nya VND 6000. Murah banget dan porsinya juga guedee.

DAY 2.
Kita planning untuk mengambil full day trip yang disediakan oleh hotel. Tapiiiii,dasar sial karena telat bangun, kita ga bisa ikut tour nya yang diadain pukul 08.15 pagi. Untungnya nih, masih ada tur lain yang dimulai jam 08.30, tapi a half-day tour to Chu Chi Tunnels. Itupun kita tetep ga sempet untuk breakfast karena waktunya hanya tinggal 5 menit lagi berangkat. Biayanya hanya VND 160,000 per person, dan dimasukin ke tagihan hotel. Pesertanya ga begitu banyak. Ada 1 keluarga dari Malaysia, 2 org Australia, 1 orang Jerman ditambah kita ber2 dari Indonesia, serta supir dan tour guide. Guide nya bisa ngomong Inggris sih, tapi jujur aksennya bikin aku pusing untuk nangkep omongan dia.

Perjalanan ditempuh selama 1.5 jam. Kita melewati taman-taman HCM yang bagus, terawat, bersih, banyak orang-orang lokal dan bule yang lagi berolahraga di sana. Tapi kendaraan di Vietnam sangat didominasi oleh motor-motor yang luar biasa banyaknya. Dan mereka membawa motor dengan kecepatan tinggi, plus helm yang samaskali tidak SNI banget. Baru 1 hari aku di HCM, dan udah ada 3 tabrakan yang aku liat.
Ok, back to story, Entrance fee untuk masuk ke Chu Chi Tunnels USD 4 per person. Awalnya kita dibawa untuk menonton film dokumenter tentang perang Vietnam.

Lalu kita diajak keliling hutan melihat-lihat kawah yang terbentuk dari letusan bom Amerika, dan lubang-lubang persembunyian gerilyawan Vietnam yang kecil-kecil.
Jujur pada mulanya aku ragu bisa masuk ke lubang sekecil itu. Tapi si Barney membuktikan kalo dia aja bisa masuk ke dalam, apalagi aku. Kita juga masuk ke dalam bunker bawah tanah yang ternyata sempitnya Nauzubillah min Zalikkkkk… Ukuran badan ku 154 cm dan berat badan 45 kg, itupun masih harus merangkak selama di dalam. Padahal si Tour Guide dengan santainya seperti kucing, bisa merangkak dengan cepat. Berkali-kali dia juga menawarkan untuk ‘EXIT’ or ‘KEEP GOING’ dan berkali-kali juga aku dan peserta lain menjawab ‘KEEP GOING’. Gila aja kalo ngebayangin prajurit-prajurit Vietnam dulu bisa tahan untuk survive di tempat yang panas, sempit, dan rendah seperti itu selama bertahun-tahun, masa kita ga sanggub untuk 15 menit aja??!!
Setelah keluar dari tu Bunker, sumpah ini kaki dan badan kayak terbuat dari karet saking lemasnya. Ditambah kenyataan kita belum makan pagi samaskali, so, perjalanan tadi bener-bener menguras tenaga kita.

Tips: Makan pagi dulu sebelum ke Chu Chi Tunnels. Tapi berkah yang kita dapet, si tour guide membawa kita ke sebuah pondok dan di sana kita disuguhin singkong rebus panas, yang dicocolin ke saus kacang tumbuk plus gula dan secangkir teh Vietnam.Whoooaaaa, aku jadi tau rasanya ‘amat sangat bersyukur’ itu seperti apa. Dan jadi tau jg singkong rebus itu enak banget dimakan ama bubuk kacang tambah gula seperti itu. Pengen bikin sendiri di rumah.
Selain itu kita juga melihat jebakan-jebakan dan senjata-senjata buatan Vietnam yang menurutku ‘cukup sadis’ sih. Mereka sepertinya paling suka dengan jebakan model tombak-tombak tajem di tancepin ke tanah, bagian yang tajem menghadap ke atas, trus atasnya ditutupin ama rumput-rumput yang dikasih tanda tertentu , sehingga kalo penduduk lokal yang melihat, mereka langsung tau kalo itu jebakan. Tapi American Soldiers ga akan tau tentang itu. Dan pastinya kalo sampe rumput itu diinjak, ucapin ‘good bye dunia’ karna dijamin pasti mati stelah badannya tertusuk tombak-tombak di bawah.
Intinya Vietnam guerrillas paling jago berperang di hutan dan dalam tanah seperti itu. Salut luar biasa untuk mereka. Jadi heran film Rambo 1,2,3 dan entah sampe berapa itu, cerita tentang kemenangan Rambo trus kan? Bukan orang-orang Vietnam nya? Kenyataaannya bertolak belakang sih..

Sepulang dari Chu Chi Tunnels, kita diturunin kembali depan hotel. Karena perut dari tadi baru dimasukin singkong rebus doang, jadi deh kita keliling cari makan dulu. Tapi sebelum itu muterin jalan nyari money changer , berhubung VND kita udah sedikit.

Awalnya nih, ada banyak saran di Internet untuk menukarkan uang di money changer-money changer di kota dari pada di bandara. Karena ratenya lebih bagus. Secara logika sih biasanya emang begitu. Tapi KENYATAAN yang aku dapat, amat sangat susah menemukan money changers di kota yang ratenya lebih bagus dari BANDARA!! Di Bandara aku cuma tuker USD 20 dgn rate VND 21,100. Tapi di luaran ratenya hanya VND 20,000.

Gosh, sumpah nyesel banget cuma nukerin USD 20 di Bandara. Tapi dewi fortuna masih berpihak ke kami ber2 Si Barney akhirnya ngusulin utk tuker di salah satu Bank yang kita lewatin. Aku udh pesimis pada awalnya. Sebagai pegawai salah satu Bank asing di Jakarta, aku tau rate di Bank ga pernah lebih bagus daripada money changers. Tapi ternyata di Bank yang kita datangi, ratenya bisa VND 21,010.. Wuuuahh langsung deh kita tukerin USD 100.

Tapi utk info aja, nilai Denominasi USD 100 dan USD 50 harganya lebih tinggi dari pada denominasi USD 20, 10 dan 5.  Even denom USD 1 dihargai lebih kecil. Ya udah..ga papa de..yang penting masih di rate VND 21,000.

Untuk lunch kali ini, kita decided untuk nyobain Indian food Baba’s Kitchen. Masih di daerah Bui Vien District 1. Di palangnya udah dikasih tanda HALAL jadi tenang de makan di sana. Kita pesen 1 porsi set menu lengkap SOUTH INDIAN THALIS untuk ku, dan NORTH INDIAN THALIS untuk si Barney.
Per porsinya seharga VND 120,000. Agak mahal tapi sebanding ama yang kita dapet. Nasi, plus curry chicken, Naan bread, 3 macam saus kari, 1 porsi salad India yang rasanya asem bener, 1 porsi soup yang rasanya hambar dan ada jahe-jahenya gitu, 1 porsi bubur manis sebagai dessert, dan 3 jenis acar.

Yang ada, makananku banyak sisanya. Tapi si penjual ramah banget dan dia datang ke meja kita menanyakan bagaimana masakannya.. Dan ketika melihat punya ku yng masih bersisa banyak, lgs deh dia bilang ‘These foods maybe too spicy for you’

Hahahaha dalam hati aku mau ketawa..Pedes dari Hongkong. Ada rasa juga engga. Belum tau dia , pedes buatku itu kalo cabe rawit merahnya ada 10 butir ke atas.

Akhirnya setelah kekenyangan, kita putusin untuk ambil tur naik becak ngeliat-liat Reunification Palace, katedral Notre-dame, Ben Than Market, Kantor pos, mampir sebentar di Hard Rock dan foto-foto di depan kantor kita ber2, ANZ dan HSBC (1 becak utk 1 org)
Tips Naik tur Becak: Pastikan deal harga yang jelas dengan abang becaknya. Kita deal dengan harga VND 100,000 per Orang. Ternyata setelah selesai, dia bilang VND 100,000 itu per jam per orang. Jadilah kita ber2 harus bayar VND 300,000 per orang untuk 3 jam. So totalnya VND 600,000.

Ok lanjut lagi ke cerita. Entrance fee untuk masuk ke Reunification Palace VND 30,000 per org. Istana yang 1 ini masih tetep digunakan untuk meetings ato acara-acara perayaan seperti wedding atau birthday party. Di dalamnya bener-bener terawat , dengan ruangan-ruangan rapat yang besar, tempat tidur, bioskop kecil untuk menonton film dokumenter Vietnam, dan di basement ada peralatan kerja kuno yang dipakai staf-staf istana jaman dulu.
Dari Reunification Palace , tinggal nyebrang ke Notre-Dame Cathedral dan kantor pos. Puas foto-foto di tempat keren ini, kita mampir ke Hard rock, ANZ dan HSBC, lalu lanjut ke Saigon River. Uang masuknya free. Baru bayar kalo kita ada niat untuk ambil tour dengan kapal mengelilingi sungai Saigon.
Terakhir baru de, kita dianter ke Ben Than Market untuk belanja oleh-oleh buat orang rumah. Rameee banget di dalam.
Tapi teratur dan bersih. Dari awal kita udh dikasih tau untuk berani nawar gila-gilaan di sini. So setelah tawar menawar yang alot, jadi de kita beli 17 pcs magnet kulkas dengan harga VND 13,000 per pc nya (harga pembuka VND 30,000) , lalu beli 19 biji t-shirt dengan harga VND 40,000/pc , dan 3 set tatakan gelas dengan harga VND 200,000 semuanya. Murah-murah banget kan… Yang pasti setelah hari itu, kita langsung tepar begitu masuk hotel. Mandi trus tidur tanpa sempet dinner lagi, saking capek dan pegelnya ni badan. (TO BE CONTINUED…)

2 tanggapan untuk “JOURNEY TO HO CHI MINH CITY 13 – 15 DESEMBER 2011 (PART 1)”

  1. *nyatet semua poin pentingnya*
    Tahun depan bakalan ke sana sendirian 🙂

    • Fanny Fristhika Nila berkata:

      Aku jg kangen ama HCMC.. Tapi kalo ke vietnam lagi, aku pgnnya ke hanoi, sapa dan halong bay mas.. harus bisa nih…itu penasaran bgttt ama tempatnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About Me

Fanny Fristhika Nila

Email: fannyfristhika@gmail.com

My Twitter: @f4nf4n

Lihat profil lengkapku

Follow Me

Subscribe Tulisanku


Delivered by FeedBurner

Archive

«

About Me

Fanny Fristhika Nila

Email: fannyfristhika@gmail.com

My Twitter: @f4nf4n

Lihat profil lengkapku

Follow Me

Subscribe Tulisanku


Delivered by FeedBurner

Archive

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.